BERITA TERKINI
Bank of England: Perang Iran Picu Guncangan Pasokan dan Naikkan Risiko Stabilitas Keuangan Global

Bank of England: Perang Iran Picu Guncangan Pasokan dan Naikkan Risiko Stabilitas Keuangan Global

Bank of England (BoE) menilai perang Iran telah memicu “guncangan pasokan negatif yang signifikan” bagi ekonomi global sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan. Penilaian itu disampaikan dalam laporan kuartalan Komite Kebijakan Keuangan BoE yang dikutip Reuters pada Rabu (1/4/2026).

BoE menyebut kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melemah, inflasi yang meningkat, serta biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memunculkan risiko secara bersamaan di sejumlah segmen pasar, mulai dari pasar utang pemerintah, kredit swasta, hingga valuasi saham teknologi di Amerika Serikat.

“Konflik ini membuat lingkungan global menjadi jauh lebih tidak pasti, setelah sebelumnya risiko global sudah meningkat. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya guncangan besar yang berulang dan saling tumpang tindih,” tulis BoE.

Konflik yang disebut dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, telah mengganggu pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz—jalur yang dilaporkan menjadi rute sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia—mendorong lonjakan harga energi.

Dampaknya terlihat di Inggris. BoE mencatat harga gas alam melonjak lebih dari 70%, sementara harga bensin naik sekitar 10%. Tagihan energi rumah tangga juga diperkirakan meningkat mulai Juli seiring penyesuaian tarif.

Tekanan juga merembet ke biaya pinjaman. Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) tenor dua tahun meningkat sekitar 90 basis poin dibandingkan sebelum perang. Selain itu, sekitar 21% produk KPR dilaporkan ditarik dari pasar.

Dari sisi pasar keuangan, BoE memperingatkan pasar obligasi pemerintah Inggris rentan terhadap gejolak, terutama karena adanya posisi besar yang diambil oleh hedge fund. Volatilitas yang tinggi dinilai berpotensi memicu aksi jual tidak teratur dan penurunan likuiditas, termasuk melalui dampak rambatan lintas negara.

BoE juga menyebut koreksi tajam harga saham dapat mendorong investor melepas obligasi pemerintah Inggris (gilts), sehingga memperburuk tekanan di pasar.

Selain itu, BoE menyoroti valuasi perusahaan teknologi besar di AS yang dinilai semakin “mahal”, khususnya yang melakukan investasi besar di kecerdasan buatan (AI). Menurut BoE, kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok akibat perang turut memperbesar risiko terhadap sektor tersebut.

Meski menggarisbawahi peningkatan risiko, BoE menilai kondisi rumah tangga, bisnis, dan perbankan Inggris masih relatif kuat. Namun, jika suku bunga tetap tinggi, sekitar 58% peminjam KPR berpotensi menghadapi kenaikan cicilan hingga 2028.

BoE memperingatkan kenaikan berkelanjutan pada suku bunga dan harga energi dapat kembali menekan kondisi keuangan rumah tangga dalam jangka menengah.