Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai tidak hanya memperburuk krisis kemanusiaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian dunia. Sejumlah pakar ekonomi memperingatkan konflik tersebut dapat menjadi pemicu munculnya stagflasi global.
Stagflasi global merujuk pada situasi ketika inflasi meningkat tajam sementara pertumbuhan ekonomi justru melambat. Kondisi ini dapat terjadi ketika harga energi dunia melonjak, sehingga menekan aktivitas ekonomi sekaligus mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Salah satu faktor yang memperbesar kekhawatiran pasar adalah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang melayani sekitar 20% distribusi minyak melalui jalur laut dunia. Ketegangan di kawasan itu disebut hampir melumpuhkan lalu lintas di selat tersebut.
Dampak konflik langsung tercermin pada pasar energi global. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak hampir 9% menjadi USD 79,30 per barel. Pada awal tahun, harga minyak masih berada di kisaran USD 61 per barel.
Selain minyak, harga gas acuan Eropa juga mengalami lonjakan tajam, naik lebih dari 50%. Kenaikan harga energi ini dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi dan memperlambat laju pemulihan ekonomi di berbagai negara.