PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan laba pada bulan kedua 2026, seiring kinerja intermediasi yang tetap solid. Hingga Februari 2026, penyaluran kredit BNI tercatat tumbuh dua digit secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba bersih tahun berjalan secara bank only mencapai Rp 3,41 triliun, meningkat 3,67% year-on-year (yoy).
Kinerja tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga. Pada periode ini, pendapatan bunga BNI naik 14,01% yoy menjadi Rp 11,96 triliun, sementara beban bunga meningkat 13,87% yoy menjadi Rp 5 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 14,2% yoy menjadi Rp 6,96 triliun.
Dari sisi operasional, pendapatan komisi, provisi, dan administrasi meningkat 10,89% yoy menjadi Rp 1,75 triliun. Namun, beban impairment melonjak 51,91% yoy menjadi Rp 1,47 triliun, yang turut mendorong beban operasional lainnya naik 31,14% yoy menjadi Rp 2,83 triliun. Kondisi ini membuat pertumbuhan laba operasional lebih terbatas, yakni 4,9% yoy menjadi Rp 4,13 triliun.
Pada sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI per Februari 2026 tercatat sebesar Rp 882,22 triliun atau tumbuh 18,9% yoy. Total aset juga meningkat 30,41% yoy menjadi Rp 1.390,45 triliun.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) naik 40,95% yoy menjadi Rp 1.092,24 triliun. Komposisi DPK didominasi giro sebesar Rp 439,2 triliun yang tumbuh 47,07% yoy, diikuti deposito Rp 376,15 triliun yang meningkat 67,03% yoy, serta tabungan Rp 276,9 triliun yang naik 10,27% yoy.
Dengan pertumbuhan DPK tersebut, rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) BNI berada di level 123,81% per Februari 2026.