Perusahaan yang menempatkan merger dan akuisisi (M&A) sebagai bagian inti dari strategi transformasi dinilai bergerak lebih cepat dibandingkan pemain yang mengandalkan pendekatan tradisional. Laporan terbaru Deloitte berjudul The Growth Transformer’s Playbook mencatat, kelompok perusahaan yang disebut sebagai growth transformers membukukan peningkatan nilai pemegang saham rata-rata mencapai 464%, jauh di atas rata-rata indeks S&P 1200 yang tercatat 157%.
Studi tersebut menganalisis lebih dari 2.000 transaksi besar sejak 2015. Deloitte menyimpulkan, perusahaan yang berani menempuh langkah strategis seperti akuisisi, divestasi, serta kolaborasi lintas ekosistem berpeluang menjadi motor pertumbuhan di tengah tantangan global, termasuk nasionalisme ekonomi dan disrupsi teknologi. Dalam pandangan Deloitte, langkah-langkah ini memungkinkan perusahaan mendefinisikan ulang cara menciptakan nilai, masuk ke pasar baru, dan membangun model bisnis yang lebih relevan.
Di Asia Tenggara, Deloitte menilai aktivitas M&A menghadapi tantangan struktural, namun sekaligus menyimpan peluang. Pendekatan transformasional disebut dapat menjadi panduan bagi pemimpin bisnis untuk menciptakan nilai berkelanjutan pada setiap tahap proses transaksi.
Laporan itu juga menyoroti pergeseran prioritas investasi perusahaan. Deloitte mencatat 47% CEO saat ini menempatkan AI dan teknologi canggih sebagai prioritas utama investasi, bukan hanya untuk efisiensi, melainkan untuk transformasi fundamental model bisnis. Lebih dari 52% CEO meyakini AI akan menjadi pendorong utama pendapatan di masa depan.
Dari sisi eksekusi transaksi, Deloitte menyebut perusahaan yang memiliki strategi sinergi yang jelas dengan target akuisisi—baik dari sisi biaya, pendapatan, maupun strategi—mampu melampaui target transaksi rata-rata sebesar 23%. Sementara itu, organisasi yang berinvestasi pada tenaga kerja dan keterampilan digital dilaporkan menunjukkan tingkat inovasi 30% lebih tinggi.
Deloitte merangkum enam praktik yang membedakan pemimpin M&A untuk transformasi. Pertama, M&A dijadikan mandat kepemimpinan yang terintegrasi dalam visi jangka panjang. Kedua, memaksimalkan portofolio secara berkelanjutan dengan pendekatan “always on”. Ketiga, menjalankan transformasi paralel dengan transaksi dengan mengintegrasikan kapabilitas digital dan teknologi sejak awal. Keempat, menempatkan AI sebagai inti strategi untuk membuka model bisnis dan sumber pendapatan baru. Kelima, membangun kolaborasi lintas sektor dengan startup, hyperscaler, dan private equity. Keenam, menyiapkan tenaga kerja masa depan yang tangguh, adaptif, dan menguasai keterampilan digital serta AI.
CEO Deloitte Asia Pacific David Hill mengatakan dinamika bisnis saat ini—mulai dari geopolitik, perubahan rantai pasok, perkembangan AI, hingga isu keberlanjutan—menuntut respons transformasi. “M&A saat ini bukan sekedar transaksi tetapi langkah strategis dan penuh tujuan untuk mempercepat transformasi,” ujarnya dalam rilis Selasa (14/10). Ia menambahkan, banyak organisasi kini mengelola bisnis layaknya portofolio dengan menyeimbangkan berbagai keputusan secara cermat. Menurutnya, transformasi bukan lagi pilihan dan ketidakaktifan justru menjadi risiko terbesar.
Memasuki 2025, Deloitte memetakan sejumlah tantangan M&A di Asia Tenggara, seperti perbedaan ekspektasi harga (bid-ask spread), siklus keluar (exit) yang lambat, serta keengganan penjual melepas kendali, terutama di sektor energi terbarukan dan infrastruktur digital. Kompleksitas regulasi dan integrasi pascamerger—khususnya pada aspek teknologi dan sumber daya manusia—juga dinilai menjadi hambatan.
Meski begitu, Deloitte menyebut minat investor tetap kuat didukung arus modal yang stabil, kebijakan regulasi yang pragmatis, serta prospek domestik yang positif. Aktivitas M&A di kawasan ini disebut dipimpin oleh sektor teknologi, layanan kesehatan, telekomunikasi, dan energi terbarukan. Konsolidasi pasar, penyesuaian valuasi, serta membaiknya pembiayaan diperkirakan mendorong volume transaksi ke depan.
Peran private equity juga disorot sebagai faktor penting, terutama di Singapura dan negara-negara tetangga, dengan fokus pada aset matang dan strategi keluar melalui trade sale maupun transaksi sekunder. Deloitte mencatat private equity mengadopsi pendekatan yang lebih disiplin dan berorientasi nilai, dengan dana “dry powder” sekitar US$2,3 triliun untuk menyasar perusahaan yang dinilai memiliki potensi tersembunyi.
Strategy, Risk & Transactions Leader Deloitte Asia Tenggara, Muralidhar M.S.K., menyebut M&A transformasional dapat membantu perusahaan menata ulang portofolio dan membangun kapabilitas baru untuk memperkuat ketahanan serta relevansi bisnis. Sementara itu, Consulting Businesses Leader Deloitte Asia Pacific, Rob Hillard, menilai M&A transformasional kini menjadi katalis utama reinvensi bisnis di Asia Pasifik, bukan sekadar upaya mengejar efisiensi, melainkan menciptakan model bisnis baru dan nilai strategis jangka panjang.
Deloitte juga menekankan kesiapan tenaga kerja sebagai elemen krusial dalam keberhasilan M&A. Tenaga kerja yang menguasai AI dan memiliki literasi digital tinggi disebut menjadi pembeda utama di pasar yang makin kompetitif.
Dalam aspek sinergi, Deloitte menyatakan pengakuisisi yang mampu mengelola sinergi secara aktif dapat menciptakan nilai hingga 1,3 kali dari target efisiensi biaya, bahkan pada beberapa kasus mencapai dua kali lipat. Strategy, Risk & Transactions Leader Deloitte Asia Pacific, Jiak See Ng, menambahkan para CEO yang mendefinisikan ulang pasar adalah mereka yang memanfaatkan M&A transformasional sebagai katalis reinvensi, termasuk melalui kemitraan lintas ekosistem dengan private equity, startup, dan mitra teknologi untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan.

