BERITA TERKINI
Lima Saham Tambang dengan Kinerja Terbaik pada 2025: ADRO, GEMS, PTBA, ITMG, dan BSSR

Lima Saham Tambang dengan Kinerja Terbaik pada 2025: ADRO, GEMS, PTBA, ITMG, dan BSSR

Saham sektor tambang di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menjadi perhatian investor seiring posisi Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari batu bara hingga emas. Sejumlah emiten tambang juga memiliki rekam jejak panjang, bahkan sebagian telah beroperasi sejak masa kolonial Hindia Belanda.

Di luar aktivitas eksplorasi dan penggalian, perusahaan tambang umumnya menjalankan kegiatan lain seperti distribusi, perdagangan, hingga konsultasi terkait komoditas tambang, baik untuk pasar domestik maupun internasional. Namun, kinerja keuangan emiten tambang kerap dipengaruhi fluktuasi harga komoditas global, yang kemudian berdampak pada minat investor dan pergerakan harga saham.

Secara definisi, perusahaan tambang adalah unit usaha yang menjalankan aktivitas produksi di bidang pertambangan. Kegiatannya meliputi eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, hingga penjualan berbagai jenis bahan tambang. Sektor pertambangan juga disebut sebagai salah satu penyumbang devisa bagi Indonesia.

Di Indonesia, aktivitas pertambangan diatur melalui UU No. 4 Tahun 2009 yang kemudian disempurnakan dengan UU No. 3 Tahun 2020. Cakupan usaha pertambangan mencakup mineral, batu bara, energi, serta minyak bumi dan gas.

Berikut lima saham perusahaan tambang yang tercatat di BEI dan masuk daftar kinerja terbaik pada 2025, berdasarkan data per Kamis, 27 Maret 2025. Kelima emiten tersebut adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Baramukti Suksessarana Tbk. (BSSR).

Dari sisi kapitalisasi pasar (market cap), ADRO tercatat sebesar 56,75 T, disusul GEMS 48,53 T, PTBA 29,03 T, ITMG 25,93 T, dan BSSR 10,68 T. Rasio PER (TTM) masing-masing berada di level 2,55x (ADRO), 6,34x (GEMS), 5,69x (PTBA), 4,29x (ITMG), dan 5,02x (BSSR). Adapun rata-rata dividend yield lima tahun (Average Dividend Yield/5Y) tercatat 15,92% (ADRO), 13,98% (GEMS), 17,03% (PTBA), 16,94% (ITMG), dan 19,59% (BSSR).

Untuk indikator profitabilitas, operating profit margin tercatat 34,22% (ADRO), 23,67% (GEMS), 12,79% (PTBA), 20,98% (ITMG), dan 17,91% (BSSR). Sementara ROE masing-masing 28,01% (ADRO), 72,65% (GEMS), 22,68% (PTBA), 19,40% (ITMG), dan 49,82% (BSSR). Dari sisi likuiditas, current ratio tercatat 4,03x (ADRO), 1,35x (GEMS), 1,26x (PTBA), 4,48x (ITMG), dan 1,75x (BSSR). Untuk rasio utang terhadap ekuitas (DER), nilainya 0,12x (ADRO), 0,43x (GEMS), 0,14x (PTBA), 0,04x (ITMG), dan 0,01x (BSSR).

1. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO)

ADRO merupakan perusahaan energi terintegrasi secara vertikal di Indonesia dengan bisnis di sektor batu bara, energi, utilitas, serta infrastruktur pendukung. Perusahaan juga memiliki lini usaha logistik dan ketenagalistrikan yang terintegrasi melalui anak perusahaan. Lokasi utama operasional Adaro berada di Provinsi Kalimantan Selatan.

Produk utamanya adalah Environcoal, yaitu batu bara termal dengan kadar polutan rendah. Selain itu, Adaro Energy juga memiliki aset batu bara metalurgi yang beragam, mulai dari batu bara kokas semi lunak hingga batu bara kokas keras premium.

2. PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS)

GEMS bergerak di bidang perdagangan hasil tambang dan jasa pertambangan melalui anak perusahaannya. Perusahaan memulai operasi komersial pada 2010 dan beroperasi di bawah kelompok bisnis Sinar Mas.

3. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA)

PTBA didirikan pada 1950 dan bergerak dalam pertambangan batu bara, termasuk survei umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, transportasi, dan perdagangan. Kegiatan lainnya meliputi pemeliharaan fasilitas pelabuhan batu bara untuk kebutuhan internal dan eksternal, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap untuk kebutuhan internal dan eksternal, serta penyediaan jasa konsultasi terkait industri pertambangan batu bara dan produk turunannya. Perusahaan juga melakukan pengembangan perkebunan.

PTBA merupakan anak perusahaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Dalam program pengembangan ketahanan energi nasional, pada 1993 pemerintah menugaskan perseroan untuk mengembangkan usaha briket batu bara.

4. PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG)

ITMG merupakan pemasok batu bara terintegrasi di Indonesia untuk pasar energi dunia. Perusahaan memiliki wilayah kerja di Kalimantan dengan tambang batu bara yang dioperasikan dan dikelola melalui anak perusahaan.

Selain itu, ITMG memiliki sejumlah anak perusahaan lain yang memberikan dukungan operasional dan disebut berpotensi dikembangkan untuk bisnis energi di masa depan. Perusahaan juga terus menambah cadangan batu bara untuk mendukung kesinambungan usaha.

5. PT Baramukti Suksessarana Tbk. (BSSR)

BSSR adalah perusahaan pertambangan batu bara dengan produk batu bara rendah sulfur berkalori sedang hingga rendah. Pangsa pasar perusahaan antara lain China, India, dan Taiwan.

Ruang lingkup kegiatan usaha perseroan meliputi pertambangan, perdagangan, transportasi darat, serta perindustrian batu bara. Kegiatan usaha dijalankan oleh perseroan bersama entitas anak, PT Antang Gunung Meratus. Pertambangan dan perdagangan batu bara menjadi kegiatan utama, sementara kegiatan lainnya berperan sebagai penunjang.

Dalam menganalisis saham sektor pertambangan, sejumlah faktor kerap menjadi perhatian, antara lain kinerja keuangan perusahaan—seperti pendapatan, laba bersih, dan rasio utang—serta produksi dan cadangan mineral yang memengaruhi prospek pertumbuhan. Pergerakan harga komoditas yang fluktuatif juga dapat berdampak langsung pada profitabilitas, sehingga pemantauan tren harga menjadi aspek penting.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Tulisan dan analisis dalam artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.