BERITA TERKINI
Link Net Fokuskan Belanja Modal untuk Ekspansi Homepass, Target 5 Juta hingga 2028

Link Net Fokuskan Belanja Modal untuk Ekspansi Homepass, Target 5 Juta hingga 2028

PT Link Net Tbk (LINK) akan mengalokasikan sebagian besar belanja modal (capital expenditure/capex) untuk ekspansi homepass sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja keuangan perusahaan. Fokus ekspansi ini terutama diarahkan pada pembangunan jaringan serat optik fiber-to-the-home (FTTH).

Direktur Utama Link Net, Kanishka Gayan Wickrama, mengatakan perseroan mulai menerapkan model dan strategi bisnis baru sejak kuartal IV 2024. Perubahan tersebut dilakukan setelah proses transfer pelanggan dari PT XL Axiata Tbk (EXCL) rampung pada kuartal III 2024.

Menurut Kanishka, hingga akhir 2025 Link Net mengusung tiga strategi utama. Pertama, menyediakan infrastruktur serat optik yang dapat dimanfaatkan berbagai operator di pasar. Kedua, menyediakan layanan konektivitas dan solusi untuk segmen korporasi. Ketiga, menyediakan konten linear maupun over-the-top (OTT) dengan model business-to-business (B2B) secara terintegrasi.

Dalam penerapan model bisnis baru, khususnya pada penyediaan infrastruktur serat optik, Link Net telah bekerja sama dengan lebih dari 15 internet service provider (ISP) di Indonesia. Melalui skema tersebut, perseroan menyediakan jaringan dan serat optik bagi ISP untuk melayani pelanggan.

Sepanjang 2025, perseroan berencana mengalokasikan sebagian besar capex untuk membangun lebih dari 350 ribu homepass FTTH. Namun, manajemen tidak memerinci besaran capex yang telah dikeluarkan pada semester I 2025.

Sebelumnya, Link Net memperoleh fasilitas pinjaman dari CIMB Niaga sebesar Rp 500 miliar yang berlaku hingga Juli 2026. Kanishka menyampaikan dana itu digunakan untuk mendukung rencana bisnis perusahaan, terutama ekspansi jaringan serat optik.

Perseroan menargetkan pembangunan 5 juta homepass hingga 2028, setara 1 juta homepass per tahun. Kanishka menyatakan realisasi hingga saat ini masih berada di bawah target sebelumnya, salah satunya karena persaingan pasar yang semakin ketat. Meski demikian, pembangunan homepass disebut tetap berjalan.

Hingga kini, Link Net mencatat telah memiliki lebih dari 4 juta homepass yang tersebar di 70 titik kota maupun kabupaten di Indonesia.

Dari sisi kinerja keuangan, berdasarkan laporan keuangan semester I 2025, Link Net membukukan rugi bersih Rp 691,69 miliar. Kerugian tersebut meningkat 145,01% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 282,30 miliar.

Di sisi pendapatan, perseroan mencatat kenaikan menjadi Rp 1,57 triliun dari Rp 1,07 triliun secara tahunan (year on year/yoy). Namun, beban jaringan dan beban langsung lainnya meningkat menjadi Rp 816,04 miliar dari Rp 347,95 miliar.

Jumlah liabilitas pada paruh pertama 2025 tercatat Rp 10,11 triliun, naik dari Rp 8,91 triliun secara yoy. Kenaikan terutama berasal dari liabilitas jangka pendek yang meningkat menjadi Rp 6,96 triliun dari Rp 4,05 triliun.

Kanishka menjelaskan peningkatan liabilitas dipengaruhi penggunaan capex sepanjang 2024 hingga 2025 untuk memperluas jaringan FTTH. Untuk menjaga kesehatan keuangan, perseroan menyatakan menerapkan manajemen keuangan yang ketat, restrukturisasi utang, efisiensi biaya, serta optimalisasi arus kas operasional, dengan tujuan menjaga struktur permodalan tetap sehat dan ekuitas stabil.