JAKARTA — Para menteri keuangan negara-negara G7 sepakat untuk berupaya menjaga stabilitas ekonomi global di tengah ketidakpastian yang dipicu perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Kekhawatiran utama dalam pembahasan mencakup lonjakan harga energi serta potensi gangguan pada rantai pasok global.
Dalam laporan Kyodo News yang dikutip Kamis, 16 April, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan situasi tersebut menjadi perhatian dalam pertemuan para menteri keuangan dan bankir sentral G7 yang berlangsung sekitar dua jam di Washington, Amerika Serikat, di sela pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia. Katayama juga menyebut banyak bank sentral saat ini cenderung mengambil sikap menunggu sebelum menetapkan langkah baru dalam kebijakan moneter.
Katayama menilai masih sulit memastikan apakah gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung lebih dari sebulan akan berujung pada perdamaian jangka panjang. Meski demikian, ia menyebut terdapat pemahaman bersama di antara peserta bahwa situasi perlu diredakan, termasuk dengan memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Menurut Katayama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent tidak menghadiri pertemuan tersebut karena benturan jadwal. Ia menambahkan, sebuah dokumen terpisah non-G7 yang diprakarsai Inggris pada dasarnya mencerminkan pandangan banyak peserta. Pertemuan G7 sendiri tidak mengeluarkan komunike bersama.
Dalam dokumen yang melibatkan Inggris, para menteri keuangan dari Australia, Jepang, Swedia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Norwegia, Irlandia, Polandia, dan Selandia Baru menyatakan bahwa sekalipun konflik kelak mencapai penyelesaian yang lebih permanen, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar diperkirakan tetap akan terasa. Mereka juga berkomitmen mendorong kerja sama dan integrasi untuk mendukung stabilitas kawasan dan global.
Kyodo News melaporkan perang tersebut sekaligus memperlihatkan jurang perbedaan yang kian dalam antara Amerika Serikat dan Eropa. Di sisi lain, dunia menyambut kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran yang dicapai pekan lalu, meski perang disebut belum benar-benar berakhir. Selat Hormuz, jalur laut penting bagi perdagangan global di lepas pantai selatan Iran, dilaporkan masih sebagian besar tertutup bagi lalu lintas kapal.
Katayama mengatakan, selain isu Iran, pertemuan juga membahas dukungan untuk Ukraina serta kerja sama pengamanan mineral kritis yang dinilai penting bagi industri teknologi tinggi dan keamanan nasional.
Sebelum rapat G7, Katayama bertemu lebih dulu dengan Bessent. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut keduanya sepakat memperkuat komunikasi terkait nilai tukar. Katayama juga menyatakan Bessent memberikan penjelasan yang “sangat menarik” mengenai situasi Iran.
Katayama menambahkan bahwa ia memaparkan kepada Bessent mengenai pengadaan minyak mentah Jepang dari AS serta paket dukungan keuangan Tokyo bagi negara-negara Asia di tengah krisis energi. Paket senilai US$10 miliar yang diumumkan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Rabu disebut ditujukan untuk memperkuat rantai pasok energi di Asia, termasuk melalui pinjaman untuk pengadaan minyak mentah dan produk minyak.
Katayama juga mengungkapkan bahwa Bessent menantikan kunjungan ke Jepang sebelum mendampingi Presiden Donald Trump dalam lawatan ke China pada pertengahan Mei. Saat ditanya mengenai informasi yang ia peroleh dari Bessent terkait Iran, Katayama tidak merinci, namun memberi isyarat pembicaraan berkaitan dengan pandangan pemerintahan Trump mengenai kemungkinan meredanya perang dan isu sanksi.