BERITA TERKINI
Mirae Asset Soroti Risiko Stagflasi dan Fase Distribusi IHSG Menjelang 2026

Mirae Asset Soroti Risiko Stagflasi dan Fase Distribusi IHSG Menjelang 2026

Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan di tengah menguatnya bursa global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terindikasi memasuki fase distribusi, situasi yang memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi risiko stagflasi.

Tekanan tersebut diperkuat oleh derasnya arus keluar dana asing dari saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi domestik yang dominan membuat pergerakan IHSG terlihat berlawanan arah dibandingkan indeks utama dunia seperti Dow Jones dan S&P 500.

Salah satu katalis yang disebut mendorong pelemahan pasar adalah lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh kisaran US$ 118 per barel. Kenaikan harga energi global dinilai memberi tekanan ganda, baik terhadap ruang fiskal negara maupun daya beli masyarakat.

Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi untuk menjaga stabilitas inflasi. Namun, langkah tersebut turut menghadirkan dilema karena ruang fiskal menjadi lebih terbatas di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.

Dalam situasi IHSG yang disebut memasuki fase distribusi, pelaku pasar disarankan lebih berhati-hati dalam menempatkan portofolio. Strategi defensif dinilai lebih masuk akal ketimbang mengejar keuntungan agresif pada sektor yang sensitif terhadap volatilitas.

Strategi sell-on-strength pada saham perbankan besar dan sektor siklikal disebut masih relevan. Pada saat yang sama, fokus dapat dialihkan pada emiten berfundamental kuat dan memiliki eksposur domestik yang solid.

Sejumlah langkah mitigasi yang dapat dipertimbangkan mencakup evaluasi ulang portofolio, terutama pada saham yang sensitif terhadap suku bunga dan harga energi. Investor juga dapat mempertimbangkan peningkatan porsi saham defensif, memantau pergerakan foreign net sell sebagai indikator arah jangka pendek, serta memperhatikan level support IHSG di area 7.005 hingga 6.892 sebagai batas teknikal yang dinilai kritis.

Selain itu, menjaga likuiditas dengan mempertahankan porsi kas dinilai penting untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang dapat meningkat sewaktu-waktu. Pergeseran ke pola investasi yang lebih konservatif dipandang relevan seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang diperkirakan berada di kisaran 5% dalam dua tahun ke depan, di tengah suku bunga yang bertahan tinggi dan nilai tukar yang masih lemah.

Dari sisi kebijakan, pemerintah disebut tengah merancang paket kebijakan komprehensif untuk meredam dampak volatilitas global. Rencana tersebut mencakup efisiensi fiskal, optimalisasi belanja negara, serta perbaikan administrasi pajak agar defisit tetap terkendali.

Adapun probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi dinilai masih relatif rendah, sekitar 5% hingga 10%. Dukungan kebijakan fiskal, termasuk penahanan harga BBM subsidi, disebut menjadi bantalan yang membantu menjaga ekonomi tetap berada di jalur yang diharapkan.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap sejumlah risiko, mulai dari eskalasi geopolitik yang dapat mengganggu jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, ketidaksinkronan kebijakan yang berpotensi menekan kepercayaan pasar, hingga tekanan energi berkelanjutan yang dapat memburuk jika mitra dagang terdampak krisis energi global.

Konsistensi kebijakan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk respons pasar dalam jangka pendek, terutama karena persepsi investor terhadap stabilitas fiskal sangat bergantung pada kemampuan otoritas mengelola anggaran di tengah tingginya harga energi.

Sejumlah data dan proyeksi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan situasi global serta kebijakan pemerintah. Keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing pelaku pasar dan memerlukan pertimbangan serta riset yang memadai.