Pasar keuangan domestik pada pekan pendek setelah libur panjang Lebaran bergerak variatif, dengan tekanan masih terasa di pasar saham seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Sentimen global turut dipengaruhi perkembangan negosiasi perang AS–Iran, volatilitas harga minyak mentah dunia, serta risiko inflasi global yang dipicu sektor energi.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi untuk pekan kelima, meski pergerakannya cenderung sideways dan penurunannya terbatas. IHSG kembali mendekati area terendah 8,5 bulan, dengan tekanan yang disebut berasal dari sentimen negatif terkait belum jelasnya perkembangan negosiasi perang, ketidakpastian kapan konflik berakhir, serta kenaikan kembali harga minyak mentah dunia. Secara mingguan, IHSG dalam dua hari perdagangan ditutup melemah tipis 0,14% atau turun 9,782 poin ke level 7.097,057. Bursa saham Asia pada periode yang sama umumnya juga bias melemah di tengah konflik berkepanjangan dan kekhawatiran inflasi global.
Memasuki pekan 30 Maret–2 April 2026 (dipotong libur Jumat Agung), IHSG diperkirakan masih berada dalam tren turun dengan potensi tekanan jual dari Wall Street dan bursa regional, meski berpeluang mengalami fase konsolidasi. Secara teknikal, IHSG disebut berada pada kisaran resistance 7.527–7.765, dengan area support di 6.917 dan 6.838 apabila tekanan jual berlanjut.
Di pasar valuta asing, rupiah terhadap dolar AS pada pekan lalu berakhir menguat terbatas namun bergerak fluktuatif dan kembali mendekati area rekor terendahnya. Secara mingguan, rupiah menguat 20 poin atau 0,12% ke level Rp16.960 per dolar AS. Pada saat yang sama, dolar AS secara global terpantau melanjutkan penguatan hingga level tertinggi 1,5 minggu, didorong kenaikan permintaan aset safe haven di tengah eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah.
Untuk pekan mendatang, kurs USD/IDR diperkirakan masih cenderung naik, dengan peluang rupiah kembali terkoreksi mendekati rekor terendah sepanjang sejarahnya. Rentang yang dicermati berada pada resistance Rp16.995–Rp17.040 dan support Rp16.856–Rp16.753.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah rupiah tenor 10 tahun terpantau stabil secara mingguan. Yield obligasi 10 tahun berakhir di level 6,848% pada akhir pekan. Di sisi lain, yield US Treasury dilaporkan menanjak naik untuk minggu keempat.
Dari sisi likuiditas, Bank Indonesia melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tercatat Rp10.089,9 triliun, tumbuh 8,7% (year-on-year). Angka ini melambat dibandingkan Januari 2026 yang tumbuh 10,0% (year-on-year). BI menyebut perkembangan M2 pada Februari terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit.
Pelaku pasar juga menanti sejumlah rilis data ekonomi pada pekan berikutnya, yakni inflasi IHK, neraca perdagangan, serta S&P Manufacturing PMI Indonesia yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu.