MEDAN — Pergerakan pasar keuangan pada perdagangan Kamis (26/2) diperkirakan cenderung terbatas di tengah minimnya agenda ekonomi global. Pelaku pasar disebut lebih memusatkan perhatian pada perkembangan tensi geopolitik serta respons terhadap kebijakan kenaikan tarif Amerika Serikat (AS).
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi tersebut membuat pasar bergerak variatif dengan kecenderungan menunggu kepastian arah. “Pasar keuangan hari ini relatif sepi agenda ekonomi. Fokus utama pelaku pasar masih pada tensi geopolitik dan perkembangan kebijakan tarif AS,” ujarnya.
Gunawan menjelaskan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury) tercatat sedikit membaik di level 4,044 persen. Namun, pada saat yang sama indeks dolar AS (USD Index) justru melemah ke kisaran 97,5.
Situasi itu turut berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan pagi, rupiah ditransaksikan relatif stabil di kisaran Rp16.750 per dolar AS. Gunawan menyebut rupiah mendapat dukungan dari pelemahan USD Index pada sesi pagi, dengan peluang pergerakan harian dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat ke level 8.351, namun kemudian kembali bergerak ke zona merah. Gunawan menilai pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, sentimen regional masih menjadi faktor yang memengaruhi arah IHSG.
Sementara itu, di pasar komoditas, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran 5.187 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,8 juta per gram. Pelaku pasar disebut menanti hasil pertemuan terkait kesepakatan nuklir antara Iran dan AS, yang dinilai akan menentukan arah harga emas selanjutnya.

