Pelemahan nilai tukar rupiah memengaruhi peta biaya dan peluang usaha di Batam. Pelaku usaha yang bergantung pada impor menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara perusahaan berorientasi ekspor serta sektor pariwisata berpotensi menikmati keuntungan dari selisih kurs.
Batam yang bertumpu pada industri manufaktur dan perdagangan internasional dinilai sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar. Saat rupiah melemah, biaya bahan baku impor langsung meningkat, terutama bagi perusahaan yang memasarkan produknya ke pasar domestik.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan kelompok usaha berbasis impor menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga bahan baku naik. Di sisi lain, daya beli masyarakat belum tentu ikut meningkat sehingga ruang untuk menaikkan harga jual menjadi terbatas.
“Biaya produksi naik karena bahan baku impor menjadi lebih mahal. Namun pasar domestik belum tentu bisa menyerap kenaikan harga, sehingga margin keuntungan tertekan,” kata Rafki.
Kondisi berbeda dialami perusahaan yang berorientasi ekspor. Pembayaran yang diterima dalam mata uang asing, sementara sebagian besar biaya operasional dibayar dalam rupiah, membuat penerimaan meningkat ketika dikonversi. Situasi ini membuat eksportir dinilai relatif lebih stabil dan berpotensi menambah keuntungan.
Meski demikian, Rafki menekankan tidak semua perusahaan ekspor sepenuhnya aman. Perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing tetap menghadapi risiko karena pelemahan rupiah membuat nilai cicilan dan pokok pinjaman membengkak dalam rupiah.
Tekanan nilai tukar juga dapat dirasakan masyarakat. Kenaikan harga barang impor berpotensi terjadi dan pada akhirnya bisa menekan konsumsi rumah tangga.
Di tengah situasi tersebut, Rafki menilai Batam masih menarik untuk ekspansi usaha. Menurutnya, pelemahan rupiah dapat membuka peluang bagi perusahaan ekspor untuk memperluas pasar luar negeri.
Dampak positif turut dirasakan sektor pariwisata Kepulauan Riau. Menguatnya mata uang Malaysia dan Singapura membuat biaya berwisata ke Indonesia lebih murah bagi warga negara kedua negara tersebut.
“Ketika mata uang mereka lebih kuat, belanja dan wisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau. Beberapa bulan terakhir, peningkatan kunjungan wisatawan asing mulai terasa,” ujar Rafki.
Fluktuasi kurs ini menunjukkan pelemahan rupiah bagi Batam tidak semata menjadi ancaman. Di satu sisi, kondisi tersebut menekan importir, namun di sisi lain dapat menjadi peluang bagi eksportir dan industri pariwisata.

