Pemerintah mendorong pengembangan benih kacang hijau melalui kegiatan Pengembangan Petani Produsen Benih Kacang Hijau (P3BTP) berbasis korporasi petani. Benih dinilai menjadi salah satu faktor penentu peningkatan produktivitas.
Dalam Webinar Propaktani Episode 67 yang digelar melalui Zoom dan disiarkan lewat kanal YouTube propaktani, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan bahwa kacang hijau (Vigna radiata) memiliki banyak manfaat dan kaya gizi sebagai sumber protein nabati.
Menurut Suwandi, terdapat 27 produk turunan kacang hijau yang disukai konsumen di dalam maupun luar negeri. Ia mendorong masyarakat untuk menanam kacang hijau karena peluang ekspor dinilai cukup besar. Pada 2020, hampir 25% produksi kacang hijau disebut diekspor.
Dengan permintaan tinggi, terutama dari Cina dan Filipina, pemerintah mendorong perluasan pengembangan untuk memenuhi pasar ekspor dan menjadikannya salah satu program prioritas. Suwandi menambahkan, kacang hijau relatif mudah dibudidayakan.
“Dalam kurun waktu dua bulan, kacang hijau bisa langsung panen dan juga bisa sebagai tanaman sela yang dapat tumbuh optimal pada saat musim kering,” kata Suwandi.
Tantangan benih bersertifikat dan produktivitas
Di lapangan, ketersediaan benih bersertifikat kacang hijau masih dinilai sulit, sementara produktivitasnya masih tergolong rendah. Rata-rata produktivitas disebut sekitar 1,2 ton per hektare, dengan persentase kelulusan 50–60%.
Ahli Peneliti Utama Puslitbang Tanaman Pangan Lukman Hakim menilai rendahnya produktivitas antara lain dipengaruhi teknologi budidaya yang masih rendah, alih teknologi yang lambat, serta pengawalan dan pendampingan yang lemah.
Lukman menekankan pentingnya teknologi produksi benih, mulai dari penerapan anjuran budidaya yang baik, pemeliharaan mutu genetik, hingga penanganan panen dan pascapanen termasuk penyimpanan benih.
Penguatan sistem perbenihan
Peneliti Ahli Utama Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang, Trustinah, menyampaikan bahwa keberhasilan penyebaran varietas unggul kacang hijau tidak terlepas dari pengembangan sistem perbenihan dan kelancaran distribusi benih, mulai dari Benih Penjenis (BS), Benih Dasar (FS), Benih Pokok (SS), hingga Benih Sebar (ES). Ia menyebut prinsip Enam Tepat: tepat varietas, mutu, jumlah, waktu, harga, dan tempat.
Trustinah menjelaskan, benih sumber yang dihasilkan Balitkabi berupa BS dan FS mengacu pada prosedur baku sertifikasi benih, dengan pengawasan ketat terhadap mutu genetik, mutu fisik, dan mutu fisiologis.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Direktorat Perbenihan mendukung kegiatan P3BTP berbasis korporasi petani, antara lain melalui bantuan benih sumber, pupuk, dan pestisida yang disalurkan dalam bentuk transfer uang kepada kelompok tani.
P3BTP dan pengembangan wilayah
Koordinator Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya, Catur Setiawan, mengatakan kegiatan P3BTP bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam memproduksi benih kacang hijau bersertifikat secara insitu. Program ini disebut telah diinisiasi sejak 2020.
Pada tahun berjalan, pengembangan dilakukan di Jawa Barat (Majalengka, Cianjur), Jawa Tengah (Cilacap, Purworejo), serta Nusa Tenggara Timur.
“Hasil korporasi ini, nantinya diambil oleh mitra dengan harga lebih tinggi dari harga konsumsi, dan untuk memenuhi ketersediaan benih program pemerintah maupun free market,” ujar Catur.
Data yang disampaikan dalam webinar menyebut penyediaan benih bersertifikat kacang hijau pada 2021 masih rendah, yakni sekitar 12% dari kebutuhan benih dan masih tersentra di beberapa provinsi. Kondisi ini dinilai menjadi peluang bagi produsen benih untuk mendukung ketersediaan benih pengembangan kacang hijau, termasuk untuk pemenuhan ekspor.
Pengalaman kemitraan produksi benih
Selain pemaparan teknis, webinar juga menghadirkan pengalaman produksi benih kacang hijau melalui kemitraan dengan petani, antara lain oleh PT East West Seed Indonesia (Ewindow), Afrizal Gindow, Khamdan Wibowo (Direktur PB Utama), serta Darmawan (Ketua Kelompok Tani Karya Jaya 3, Kendal).
Afrizal menyampaikan, varietas yang diproduksi Ewindow bekerja sama dengan Balitkabi selama ini ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Varietas yang disebut disukai adalah Vima 1 dengan penampilan biji kusam, umur panen 57 hari, panen serempak, serta adaptif terhadap embun tepung. Ia menambahkan, dengan asumsi 1 kilogram benih sumber dapat menghasilkan 100–200 kilogram benih sebar siap tanam.
Sementara itu, Khamdan Wibowo mengatakan produksi benih kacang hijau sejak 2016 meningkat setiap tahun. Benih tersebut digunakan untuk memasok kebutuhan ekspor varietas Vima 1, Vima 3, dan Vima 5. “Kami bekerja sama dengan lima eksportir di Surabaya per tahun rata-rata berkontribusi sebanyak 700–1.000 ton,” ujarnya.

