BERITA TERKINI
Penyebab, Dampak, dan Langkah Individu Menghadapi Perubahan Iklim

Penyebab, Dampak, dan Langkah Individu Menghadapi Perubahan Iklim

Perubahan iklim terjadi ketika emisi gas rumah kaca menyelimuti Bumi dan memerangkap panas matahari. Kondisi ini mendorong pemanasan global dan memicu perubahan pada sistem iklim. Saat ini, laju pemanasan yang terjadi disebut sebagai yang tercepat dalam sejarah.

Penyebab utama perubahan iklim

Emisi gas rumah kaca berasal dari berbagai aktivitas manusia, terutama yang bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil serta perubahan penggunaan lahan.

  • Pembuatan energi: Produksi listrik dan panas dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan emisi besar, termasuk karbon dioksida dan dinitrogen oksida. Sekitar seperempat listrik global berasal dari angin, tenaga surya, dan sumber terbarukan lain yang menghasilkan sedikit atau tanpa emisi.
  • Manufaktur barang: Industri menghasilkan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil untuk energi dalam produksi semen, besi, baja, elektronik, plastik, pakaian, dan produk lain. Pertambangan serta proses konstruksi juga menyumbang emisi. Sektor manufaktur disebut sebagai salah satu kontributor emisi gas rumah kaca terbesar secara global.
  • Penebangan hutan: Pembukaan hutan untuk pertanian, peternakan, atau tujuan lain melepaskan karbon yang tersimpan di pohon. Sekitar 12 juta hektar hutan dihancurkan setiap tahun. Penggundulan hutan dan perubahan fungsi lahan disebut menyumbang sekitar seperempat emisi gas rumah kaca global, sekaligus mengurangi kemampuan alam menyerap karbon dioksida.
  • Transportasi: Mobil, truk, kapal, dan pesawat umumnya menggunakan bahan bakar fosil, menjadikan transportasi kontributor utama emisi, terutama karbon dioksida. Transportasi menyumbang hampir seperempat emisi karbon dioksida global terkait energi, dengan tren peningkatan kebutuhan energi transportasi pada tahun-tahun mendatang.
  • Produksi makanan: Emisi muncul dari penggundulan hutan untuk lahan pertanian dan penggembalaan, gas dari ternak seperti sapi dan domba, produksi serta penggunaan pupuk dan pupuk kandang, hingga energi untuk menjalankan peralatan pertanian dan perahu nelayan. Pengemasan dan distribusi makanan juga menghasilkan emisi.
  • Penyuplai energi untuk bangunan: Bangunan hunian dan komersial memakai lebih dari setengah listrik global. Penggunaan batu bara, minyak, dan gas untuk pemanas dan pendingin menghasilkan emisi yang signifikan. Permintaan AC, penerangan, peralatan, dan perangkat terhubung turut mendorong kenaikan emisi dari sektor bangunan.
  • Pemakaian berlebihan: Pilihan gaya hidup—mulai dari energi yang dipakai, cara bepergian, pola makan, hingga jumlah makanan yang terbuang—berkontribusi pada emisi. Konsumsi barang seperti pakaian, elektronik, dan plastik juga terkait emisi di sepanjang rantai produksi. Disebutkan bahwa 1% orang terkaya di dunia menyumbang emisi gas rumah kaca lebih besar dibanding 50% orang termiskin.

Dampak perubahan iklim

Peningkatan suhu yang berlangsung dari waktu ke waktu mengubah pola cuaca dan mengganggu keseimbangan alam, memunculkan risiko bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

  • Suhu lebih panas: Konsentrasi gas rumah kaca yang meningkat mendorong kenaikan suhu permukaan global. Dekade 2011–2020 disebut sebagai yang terpanas yang pernah tercatat, dan setiap dekade sejak 1980-an lebih panas dari sebelumnya. Dampaknya mencakup lebih banyak hari panas dan gelombang panas, peningkatan penyakit terkait panas, hambatan bagi pekerjaan luar ruang, serta kebakaran hutan yang lebih mudah terjadi. Suhu di Arktik meningkat setidaknya dua kali lebih cepat daripada rata-rata global.
  • Badai lebih parah: Suhu yang meningkat memperbesar penguapan air, memperburuk hujan ekstrem dan banjir. Peningkatan suhu lautan juga memengaruhi frekuensi dan luas badai tropis, memperkuat siklon, hurikan, dan taifun yang dapat merusak permukiman, menimbulkan korban jiwa, dan kerugian ekonomi.
  • Kekeringan meningkat: Perubahan iklim mengubah ketersediaan air sehingga semakin langka di lebih banyak wilayah. Risiko kekeringan pertanian dan ekologis meningkat, termasuk potensi badai pasir dan debu yang membawa miliaran ton pasir melintasi benua. Gurun meluas dan lahan pertanian berkurang, sementara banyak orang menghadapi ancaman kekurangan air secara berkala.
  • Volume dan suhu lautan meningkat: Lautan menyerap sebagian besar panas dari pemanasan global, dengan pemanasan yang meningkat cepat dalam dua dekade terakhir. Air yang lebih hangat memuai sehingga menaikkan volume lautan, ditambah kontribusi mencairnya lapisan es yang menaikkan permukaan laut dan mengancam wilayah pesisir serta pulau. Lautan juga menyerap karbon dioksida, namun peningkatan karbon dioksida membuat lautan lebih asam dan membahayakan biota laut serta terumbu karang.
  • Kepunahan spesies: Risiko terhadap kelangsungan hidup spesies meningkat seiring kenaikan suhu. Dunia disebut kehilangan spesies 1.000 kali lebih cepat dibanding sebelumnya dalam sejarah manusia, dengan satu juta spesies terancam punah dalam beberapa dekade mendatang. Ancaman meliputi kebakaran hutan, cuaca ekstrem, hingga hama dan penyakit invasif.
  • Kekurangan makanan: Perubahan iklim dan cuaca ekstrem dikaitkan dengan meningkatnya kelaparan dan gizi buruk. Sektor perikanan, pertanian, dan peternakan dapat hancur atau menurun produktivitasnya. Pengasaman laut mengancam sumber daya laut yang dikonsumsi miliaran orang, sementara perubahan salju dan es di Arktik mengganggu pasokan makanan dari aktivitas menggembala, berburu, dan memancing.
  • Risiko kesehatan meningkat: Perubahan iklim disebut sebagai ancaman kesehatan terbesar bagi manusia, melalui polusi udara, penyakit, cuaca ekstrem, pemindahan paksa, tekanan kesehatan mental, serta kelaparan dan gizi buruk. Disebutkan sekitar 13 juta orang meninggal setiap tahun akibat faktor lingkungan. Perubahan pola cuaca dapat memengaruhi penyebaran penyakit, dan cuaca ekstrem meningkatkan kematian serta membebani sistem layanan kesehatan.
  • Kemiskinan dan pemindahan: Dampak iklim dapat memperburuk kemiskinan. Banjir dapat menghancurkan permukiman dan mata pencarian, panas menyulitkan kerja luar ruang, dan kelangkaan air memengaruhi tanaman. Pada 2010–2019, peristiwa terkait cuaca disebut memaksa rata-rata sekitar 23,1 juta orang berpindah setiap tahun, terutama dari negara yang paling rentan dan paling kurang siap beradaptasi.

Langkah individu untuk membantu membatasi perubahan iklim

Setiap orang dapat berkontribusi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari, mulai dari penggunaan energi hingga pola konsumsi.

  • Hemat energi di rumah: Kurangi pemanasan dan pendinginan, gunakan lampu LED dan peralatan hemat energi, cuci dengan air dingin, serta jemur pakaian alih-alih menggunakan pengering.
  • Berjalan kaki, bersepeda, atau naik transportasi umum: Mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar solar atau bensin dapat menekan emisi. Untuk jarak jauh, pertimbangkan bus atau kereta, serta berbagi kendaraan bila memungkinkan.
  • Perbanyak makan sayur: Lebih banyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan, serta mengurangi daging dan susu, dapat menurunkan dampak lingkungan karena makanan nabati umumnya menghasilkan emisi lebih sedikit.
  • Pertimbangkan perjalanan: Mengurangi penerbangan dapat menekan emisi. Alternatif yang disebutkan antara lain bertemu secara virtual, naik kereta, atau menghindari perjalanan jarak jauh.
  • Buang lebih sedikit makanan: Mengurangi sampah makanan berarti menghemat sumber daya produksi dan transportasi. Makanan yang membusuk di TPA menghasilkan metana; sisa makanan dapat dikomposkan.
  • Kurangi, gunakan kembali, perbaiki, dan daur ulang: Emisi muncul dari ekstraksi bahan mentah hingga produksi dan pengangkutan barang. Membeli lebih sedikit, memilih barang bekas, memperbaiki, dan mendaur ulang dapat mengurangi jejak karbon.
  • Ubah sumber energi rumah: Memeriksa sumber listrik rumah dan beralih ke energi terbarukan seperti angin atau matahari, termasuk memasang panel surya, disebut sebagai opsi yang dapat dipertimbangkan.
  • Beralih ke kendaraan listrik: Jika berencana membeli mobil, kendaraan listrik dapat mengurangi polusi udara dan menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.
  • Pilih produk yang ramah lingkungan: Memilih makanan lokal dan musiman serta produk dari perusahaan yang menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab dan berkomitmen mengurangi emisi serta limbah dapat menekan dampak lingkungan.
  • Utarakan dan ajak orang lain: Menyampaikan dukungan dan mendorong orang lain ikut bertindak—kepada tetangga, rekan kerja, keluarga, pelaku usaha, dan pemimpin—disebut sebagai salah satu cara cepat untuk menciptakan perubahan.

Rangkaian penyebab dan dampak tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim berkaitan erat dengan cara energi diproduksi dan digunakan, bagaimana lahan dikelola, serta pola konsumsi masyarakat. Di saat yang sama, langkah individu disebut dapat menjadi bagian dari upaya membatasi krisis iklim.