BERITA TERKINI
Perang Iran Terus Menekan Sentimen Pasar Keuangan Global

Perang Iran Terus Menekan Sentimen Pasar Keuangan Global

Perkembangan perang di Iran masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan global. Situasi ini tercermin dari pernyataan para pemimpin dunia dan otoritas, termasuk bank sentral, yang terus memantau dampaknya terhadap risiko geopolitik, harga energi, dan inflasi.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan publik pertamanya sejak mengambil peran resmi. Dalam pernyataan tersebut, Iran tetap menunjukkan sikap bermusuhan, termasuk mempertahankan posisi untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup serta menyerukan agar pangkalan Amerika Serikat (AS) di kawasan menjadi sasaran.

Dari pihak AS, sinyal yang muncul dinilai ambigu. Presiden AS Donald Trump menyebut adanya diskusi yang produktif dengan Iran, namun klaim itu dibantah oleh Iran. Menurut riset Ashmore Asset Management Indonesia, Iran masih menggunakan Selat Hormuz sebagai alat pengaruh, tetapi kemungkinan tetap menyisakan ruang untuk peluang negosiasi.

Berita penting lain dari AS adalah penundaan serangan yang sebelumnya direncanakan Trump terhadap infrastruktur energi Iran. Dampak langsungnya adalah meredanya optimisme pasar pada Selasa pekan lalu. Namun, penundaan tersebut dipandang bukan sebagai de-eskalasi yang jelas karena hanya menyasar infrastruktur energi, sementara opsi untuk menargetkan fasilitas militer masih terbuka.

Penundaan terbaru itu juga memuat tenggat hingga 6 April bagi Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz sebelum serangan terhadap situs energi dapat dilanjutkan.

Di saat yang sama, AS mempertimbangkan pengerahan sekitar 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah. Sinyal ini dinilai pasar sebagai indikasi konflik berpotensi berlanjut, sehingga meningkatkan premi risiko.

Dampak perang juga tercermin pada proyeksi ekonomi. OECD merevisi perkiraan inflasi AS menjadi lebih tinggi, yakni 4,2% pada 2026, dengan perang Iran disebut sebagai salah satu faktor pendorong.

Pergerakan harga energi ikut menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan terbaru. Harga minyak sempat turun pada Senin hingga di bawah USD 85 per barel setelah pengumuman jeda, namun kemudian berangsur naik kembali hingga di atas USD 95 per barel.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik melampaui 4,4% seiring investor mempertimbangkan kemungkinan perang berkepanjangan dan risiko kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Ashmore menilai investor mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), meskipun pernyataan terbaru Ketua The Fed Jerome Powell tidak mengindikasikan langkah berikutnya berupa kenaikan suku bunga. Secara keseluruhan, sentimen risiko global masih dipengaruhi oleh perkembangan perang di Iran.

Dalam jangka pendek, jeda hingga 6 April memberi ruang sementara, namun kelanjutan operasi militer tetap menjadi kemungkinan. Ashmore mencatat harga minyak lebih dipengaruhi ekspektasi durasi konflik, di samping kondisi pasokan yang terbatas dan gangguan logistik.

Di tengah volatilitas yang tinggi, Ashmore menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset. Untuk obligasi, mereka menyoroti perlunya menjaga likuiditas dan kualitas dengan tetap pada posisi defensif. Sementara untuk saham, perusahaan yang menghasilkan pendapatan dalam dolar AS disebut tetap menjadi pilihan, dengan catatan fundamental yang mendukung.