Perempuan kini mendominasi dunia kerja di Amerika Serikat seiring meningkatnya jumlah perempuan yang memiliki pekerjaan bergaji dibanding laki-laki. Pergeseran ini dinilai mencerminkan perubahan sosial sekaligus tren ekonomi yang menandai perubahan besar dalam struktur pasar tenaga kerja.
Menurut laporan Fortune pada 29 Maret, per awal 2026 jumlah perempuan dengan pekerjaan bergaji telah melampaui laki-laki di Amerika Serikat. Situasi serupa sebelumnya pernah terjadi dua kali, yakni saat Resesi Hebat dan menjelang pandemi Covid-19, namun kala itu bersifat sementara dan kembali berbalik.
Kali ini, perubahan tersebut dinilai berbeda karena tidak dipicu oleh resesi. Ekonom Laura Ullrich menyebut tren ini sebagai bagian dari penurunan jangka panjang yang berpotensi mendorong pergeseran struktural yang lebih permanen dalam pasar tenaga kerja.
Dalam tiga dekade terakhir, kesenjangan gender dalam pekerjaan terus menyempit. Pada awal 1990-an, laki-laki tercatat memegang hampir 7 juta pekerjaan lebih banyak dibanding perempuan, namun selisih tersebut kini telah hilang. Dalam 12 bulan terakhir, jumlah pekerjaan laki-laki turun sekitar 142.000, sementara pekerjaan yang dipegang perempuan bertambah 298.000.
Fortune juga mencatat, dari total 1,2 juta pekerjaan baru sejak Februari 2024 hingga Februari 2026, sekitar dua pertiganya diisi oleh perempuan.
Tren kontras juga terlihat pada tingkat partisipasi angkatan kerja. Partisipasi laki-laki turun hampir 20 poin sejak 1948, dari 86,7% menjadi 67,2%. Sebaliknya, partisipasi perempuan meningkat dari 32% menjadi 57,2%.
Data terbaru menunjukkan penurunan partisipasi tenaga kerja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Dibandingkan sebelum pandemi, tingkat partisipasi laki-laki turun dari 69,2% menjadi 67,2%, sementara perempuan hanya turun sekitar 0,6 poin. Kondisi ini mengindikasikan perubahan bukan semata karena lebih banyak perempuan masuk ke dunia kerja, melainkan juga karena semakin banyak laki-laki keluar dari angkatan kerja.
Laporan tersebut menyebut laki-laki muda kini lebih kecil kemungkinannya untuk bekerja dibanding generasi sebelumnya. Dalam banyak kasus, kebutuhan finansial mereka ditopang oleh orang tua atau pasangan. Semakin banyak pria dewasa muda juga tinggal lebih lama bersama orang tua, yang disebut didorong oleh transfer kekayaan antar generasi.
Di sisi lain, fenomena perempuan menjadi pencari nafkah utama bagi pasangan pria disebut semakin umum dan tidak lagi memiliki stigma sosial yang kuat. Perubahan norma dalam relasi ekonomi rumah tangga ini kian terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan perilaku laki-laki muda juga tercermin dari cara mereka menghabiskan waktu. Sekitar 70% waktu yang tidak digunakan untuk bekerja dihabiskan untuk bermain video game dan aktivitas komputer rekreasional. Fortune mencatat peningkatan teknologi gim sejak 2004 disebut mampu menjelaskan hampir setengah dari kenaikan waktu luang tersebut.