JAKARTA — PT Yamaha Music mengumumkan akan menutup total operasionalnya di Indonesia pada 2025. Penutupan ini mencakup dua pabrik utama yang berlokasi di kawasan industri MM2100, Cikarang, Bekasi, serta Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Keputusan tersebut diperkirakan berdampak langsung pada sekitar 1.100 karyawan. Rinciannya, sekitar 700 pekerja berasal dari pabrik PT Yamaha Music Product Asia (YMPA) di Bekasi, sementara sekitar 400 lainnya bekerja di fasilitas produksi Pulo Gadung. Selain dampak ketenagakerjaan, penutupan pabrik juga dinilai berpotensi mengurangi pemenuhan permintaan alat musik Yamaha berstandar tinggi di pasar domestik.
Manajemen PT Yamaha Music menyebut langkah ini sebagai keputusan strategis untuk merespons perubahan kondisi pasar dan dinamika bisnis global. Dalam pernyataannya, perwakilan perusahaan menyampaikan apresiasi kepada para karyawan atas dedikasi dan kontribusi selama ini.
PT Yamaha Music memiliki jejak panjang di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 1974 dan selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pionir manufaktur alat musik di Tanah Air. Pada masa awal beroperasi, Yamaha memproduksi beragam instrumen seperti piano, pianika, dan electone.
Sejak Oktober 1998, perusahaan mengalihkan fokus produksinya pada piano, khususnya upright dan grand piano. Proses manufaktur yang disebut dilakukan secara teliti—mulai dari pengolahan kayu hingga inspeksi kualitas akhir—menjadi bagian dari reputasi produk Yamaha di tingkat internasional.
Di luar aktivitas produksi, Yamaha juga tercatat terlibat dalam dukungan pendidikan musik melalui Yayasan Musik Yamaha (YMI) yang didirikan pada 1971. Yayasan ini disebut dibentuk oleh perwakilan Yamaha Musik Jepang, Mr. Yasuke Sato, melalui kolaborasi dengan sejumlah tokoh Indonesia, termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso. YMI menyelenggarakan kursus electone dan instrumen lainnya di berbagai kota sebagai upaya memperkenalkan dan menjaga minat bermusik di kalangan generasi muda.
Yamaha juga dikenal aktif mendukung gelaran musik, salah satunya Java Jazz International Festival sejak 2005. Pada perayaan satu dekade festival tersebut pada 2014, Yamaha menghadirkan konser bertajuk “The Greatest Movie Soundtracks of All Time” dengan arahan Ronald Steven, menampilkan berbagai soundtrack film ikonik dari James Bond hingga medley film Disney dan serial TV. Dalam salah satu sesi wawancara, Ronald Steven menyebut pertunjukan itu sebagai bukti bagaimana musik dapat menjadi jembatan antar budaya dan generasi.
Rencana penutupan pabrik pada 2025 memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya bagi industri alat musik di Indonesia, mengingat kontribusi perusahaan dalam penyediaan produk berkualitas di pasar lokal. Di sisi lain, situasi ini juga menempatkan tantangan bagi pelaku usaha di dalam negeri untuk mengisi celah pasokan sekaligus meningkatkan kualitas agar mampu bersaing.
Meski operasional PT Yamaha Music di Indonesia akan berakhir, jejak kontribusinya—baik dalam manufaktur maupun dukungan terhadap pendidikan dan kegiatan musik—menjadi bagian dari sejarah industri musik nasional selama lebih dari empat dekade.

