BERITA TERKINI
Puasa Ramadan Dipandang sebagai Sarana Kritik terhadap Kapitalisme dan Ketimpangan Sosial

Puasa Ramadan Dipandang sebagai Sarana Kritik terhadap Kapitalisme dan Ketimpangan Sosial

Sebuah tulisan dalam rubrik “Mahasiswa Bersuara” menilai kapitalisme masih terus bertahan sebagai sistem ekonomi dominan, namun dinilai turut membawa berbagai dampak sosial yang saling berkaitan, mulai dari kemiskinan, persoalan lingkungan, hingga masalah sosial lain yang disebut berujung pada “depresi massal”. Penulis menekankan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak berdiri sendiri dan, karena itu, perubahan dinilai perlu menyasar akar masalah, bukan sekadar perbaikan parsial.

Dalam momentum Ramadan, puasa dipandang dapat menjadi salah satu bentuk resistensi terhadap sistem ekonomi yang dianggap menindas. Puasa yang lekat dengan praktik keagamaan disebut dapat dimaknai sebagai sarana kritik, terutama melalui pengurangan konsumsi barang dan jasa yang dinilai dapat mengurangi dukungan langsung terhadap sistem ekonomi yang berjalan saat ini. Namun, tulisan tersebut juga mengakui bahwa puasa kerap dijalankan di tengah kapitalisme dan, pada dirinya sendiri, tidak serta-merta berdampak besar terhadap runtuhnya sistem tersebut.

Meski demikian, penulis berpendapat puasa dapat memiliki arti politik dan sosial jika dilakukan dengan “semangat perlawanan” serta disertai “kesadaran kelas” yang kuat. Dalam kerangka itu, puasa disebut bisa menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menantang kapitalisme.

Tulisan tersebut juga menyoroti dimensi pengalaman lapar dan dahaga selama puasa sebagai sarana menumbuhkan kepekaan terhadap ketimpangan sosial-ekonomi. Dengan merasakan lapar, individu dinilai dapat lebih peka pada kenyataan bahwa kelaparan masih terjadi di berbagai tempat. Dari pengalaman kolektif itu, penulis berharap kesadaran masyarakat meningkat dan mendorong tindakan yang disebutnya lebih “revolusioner” untuk menghadapi sistem ekonomi yang, menurutnya, membuat banyak orang kelaparan karena prinsip pasar bebas.

Selain itu, puasa dipandang dapat menjadi momentum untuk menilai ulang keadilan dalam sistem ekonomi yang berlaku. Penulis menyebut ketimpangan kelas sebagai konsekuensi yang terus berulang dan, jika dibiarkan, dapat memicu depresi massal. Dalam konteks ini, puasa disebut dapat membantu mendorong gagasan alternatif ekonomi yang lebih adil, dengan orientasi pada kebutuhan, bukan pada penumpukan harta.

Wacana puasa sebagai alat perlawanan diakui berpotensi dianggap tabu karena agama kerap dipahami sebatas relasi manusia dengan Tuhan. Namun, tulisan tersebut menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, menurut penulis, tidak terlepas dari realitas sosial dan memijakkan ajaran agama pada upaya mengubah kondisi yang tidak adil.

Penulis merujuk pemikiran Asghar Ali Engineer yang menyatakan Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyeru penyembahan kepada Allah SWT, tetapi juga mengkritik praktik sosial-ekonomi pada masa itu, termasuk monopoli dan praktik riba. Tulisan itu juga menyebut Al-Qur’an menentang kapitalisme, dengan merujuk Q.S. Al-Humazah ayat 1–4.

Rujukan lain datang dari tulisan Alam Tulus berjudul “Muhammad Mengajarkan Sosialisme Jauh Sebelum Karl Marx”, yang disebut menegaskan penolakan Al-Qur’an terhadap kapitalisme. Dalam tulisan tersebut, Q.S. Al-An’am ayat 145 yang menyatakan keharaman memakan darah yang mengalir dipahami tidak hanya secara harfiah, tetapi juga dimaknai sebagai kritik terhadap praktik “menghisap” dan mengeksploitasi tenaga kerja demi keuntungan pribadi. Penulis mengaitkannya dengan kondisi buruh dalam ekonomi kapitalisme yang disebut terus diperas tenaganya.

Lebih jauh, tulisan itu menekankan bahwa agama tidak semestinya dipisahkan dari realitas sosial, karena sejarah menunjukkan agama juga berbicara tentang perjuangan sosial. Ramadan dipandang sebagai kesempatan membangun solidaritas individu dan komunitas yang memiliki tujuan perubahan. Puasa, menurut penulis, dapat membantu menumbuhkan rasa kebersamaan dalam perjuangan mencapai perubahan yang disebut lebih sejati.

Meski begitu, penulis menggarisbawahi bahwa puasa bukan satu-satunya solusi. Perubahan dinilai memerlukan waktu, usaha, dan resistensi dengan komitmen tinggi. Karena itu, puasa disebut perlu berjalan beriringan dengan praktik-praktik lain yang lebih luas dan sistematis. Dalam kesimpulannya, puasa diposisikan sebagai salah satu sarana untuk mengurangi konsumsi, meningkatkan kesadaran, membangun solidaritas, dan mengembangkan alternatif, namun bukan satu-satunya jalan untuk menghadapi sistem ekonomi yang dinilai menindas.