BERITA TERKINI
Ramayana Lestari Sentosa Siapkan Buyback hingga 5% Saham, Ini Tujuan dan Gambaran Kinerjanya

Ramayana Lestari Sentosa Siapkan Buyback hingga 5% Saham, Ini Tujuan dan Gambaran Kinerjanya

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) merupakan perusahaan ritel yang berdiri pada 14 Desember 1983 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun yang sama. Berdasarkan anggaran dasar, ruang lingkup usaha perseroan adalah perdagangan umum dengan menjual berbagai barang seperti pakaian, aksesori, tas, sepatu, kosmetik, serta kebutuhan sehari-hari melalui gerai serba ada Ramayana Supermarket (department store).

Selain itu, RALS juga menjalin kerja sama dengan Spar International, jaringan ritel dan waralaba multinasional asal Belanda yang memiliki sekitar 12.500 toko di 35 negara. Gerai hasil kerja sama tersebut menggunakan nama SPAR Supermarket.

RALS melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK pada 26 Juni 1996 untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) sebanyak 80.000.000 saham dengan nilai nominal Rp500 per saham dan harga penawaran Rp3.200 per saham. Saham perseroan tercatat di BEI pada 24 Juli 1996.

Kinerja 2020 Tertekan hingga Kuartal III

Hingga kuartal III 2020, kinerja RALS tercatat melemah. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp1,9 triliun, turun 56,88% secara tahunan (year on year/yoy). Pada periode yang sama, RALS mencatat rugi tahun berjalan Rp95,22 miliar, berbanding terbalik dengan kuartal III 2019 yang masih mencetak laba tahun berjalan Rp612,42 miliar.

Laporan keuangan kuartal III 2020 juga menunjukkan rugi bersih Rp99,1 miliar. Kerugian ini membesar dibanding kuartal II 2020 yang sebesar Rp9,5 miliar, sementara pada kuartal III 2019 perseroan mencatat laba Rp22,6 miliar.

Dari sisi operasional, RALS mencatat rugi operasional Rp146,9 miliar pada kuartal III 2020, meningkat dibanding kuartal sebelumnya Rp16 miliar. Kerugian yang lebih dalam ini antara lain dikaitkan dengan kenaikan biaya penjualan secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) sebesar 122% seiring penerapan PSAK 73. Meski demikian, perseroan mencatat penurunan beban operasional (opex) 28,2% yoy.

Tekanan terhadap kinerja juga tidak terlepas dari penurunan pendapatan akibat pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) serta pelemahan daya beli konsumen, yang disebut sebagian besar berasal dari kelompok berpendapatan rendah. Momentum belanja Lebaran yang biasanya membantu penjualan juga tidak memberikan kontribusi berarti di tengah tekanan ekonomi dan rendahnya daya beli.

Sebelum Pandemi, Laba Tercatat Naik dari 2017–2019

Sebelum pandemi Covid-19, RALS secara bisnis mencatatkan laba pada tahun buku 2017 hingga 2019. Dalam periode tersebut, penjualan beli putus disebut stabil di kisaran Rp4 triliun, sementara laba tahun berjalan meningkat dari tahun ke tahun, yang mengindikasikan upaya efisiensi beban perusahaan.

Pada tahun buku 2019, RALS membukukan pendapatan Rp5,59 triliun hingga 31 Desember 2019, turun dari Rp5,74 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto turun menjadi Rp2,49 triliun dari Rp2,51 triliun pada 2018, dan laba usaha turun menjadi Rp581,55 miliar dari Rp606,95 miliar.

Di sisi lain, laba sebelum pajak meningkat menjadi Rp733,16 miliar dari Rp717,17 miliar. Kenaikan ini antara lain dikaitkan dengan peningkatan pendapatan keuangan menjadi Rp186,90 miliar dari Rp134,79 miliar. Laba tahun berjalan tercatat Rp647,89 miliar, naik dari Rp587,11 miliar pada tahun sebelumnya.

Total aset perseroan mencapai Rp5,65 triliun per 31 Desember 2019, meningkat dari Rp5,24 triliun per 31 Desember 2018. Pada 2019, terdapat pula prediksi bahwa pertumbuhan penjualan toko yang sama (same store sales growth) melemah, seiring pelambatan ekonomi di sejumlah kota besar di Indonesia menjelang Pemilihan Umum Presiden dan gelombang demonstrasi.

Rencana Buyback Saham: Hingga 5% Modal Disetor

RALS menyiapkan rencana pembelian kembali saham (buyback). Dalam keterbukaan informasi kepada pemegang saham, perseroan menyampaikan rencana buyback sebanyak-banyaknya 5% dari modal disetor, atau maksimum 354,8 juta (354.800.000) saham.

Perkiraan biaya yang disiapkan untuk aksi ini sebanyak-banyaknya sekitar Rp350 miliar, termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang terkait dengan pembelian kembali saham.

  • Persetujuan: rencana buyback akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 April 2021.
  • Periode pelaksanaan: paling lama 18 bulan setelah tanggal persetujuan RUPSLB.
  • Jumlah maksimal: 5% dari modal disetor atau maksimum 354,8 juta saham.
  • Estimasi biaya: hingga sekitar Rp350 miliar (termasuk biaya terkait).

Tujuan Buyback dan Dampaknya bagi Perusahaan

Manajemen RALS menjelaskan bahwa buyback dilakukan untuk meningkatkan nilai pemegang saham, termasuk melalui pengembalian arus kas kepada pemegang saham. Rencana ini juga mempertimbangkan kemampuan perseroan yang mencetak laba pada tahun-tahun sebelumnya, meskipun pada 2020 mengalami kerugian akibat dampak Covid-19 terhadap sektor ritel dan pusat perbelanjaan.

Selain itu, persetujuan buyback disebut memberi fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan dalam mengelola modal demi mencapai struktur permodalan yang lebih efisien. Perseroan juga menyatakan pelaksanaan buyback tidak akan memengaruhi pembiayaan kegiatan usaha, karena RALS menilai modal kerja dan arus kas yang dimiliki cukup untuk menjalankan rencana tersebut sekaligus membiayai operasional.

Catatan Dividen

Dari sisi pembagian dividen, RALS tercatat membagikan dividen sejak 2017 dengan besaran Rp40 pada 2017, Rp50 pada 2018, dan Rp50 pada 2019. Tren tersebut berhenti pada 2020 berdasarkan data RTI per 8 April.

Dengan rencana buyback, perseroan menegaskan fokusnya pada pengelolaan modal dan upaya meningkatkan nilai bagi pemegang saham, di tengah tantangan kinerja yang sempat tertekan selama pandemi.