BERITA TERKINI
Saham AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Mengecewakan, Ketegangan Timur Tengah Angkat Harga Minyak

Saham AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Mengecewakan, Ketegangan Timur Tengah Angkat Harga Minyak

Pasar saham Amerika Serikat melemah dalam sepekan terakhir pada periode perdagangan 2–6 Maret 2026. Pelemahan berlanjut pada kontrak berjangka setelah rilis data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih rapuh dari perkiraan.

Dalam laporan nonfarm payrolls Februari 2026, ekonomi AS tercatat kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 58.000 hingga 59.000 pekerjaan. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3% pada bulan sebelumnya.

Data tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap pelemahan pasar tenaga kerja dan prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini juga meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mempercepat siklus pelonggaran moneter. Pasar mulai memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga lebih awal pada paruh kedua 2026, meskipun tekanan inflasi masih tinggi seiring kenaikan harga minyak global.

Di tengah pelemahan pasar secara umum, sejumlah saham mencatat kenaikan mingguan terbesar. Intuit (INTU) naik 25,08%, diikuti The Trade Desk (TTD) 24,54%, LyondellBasell (LYB) 20,05%, Expedia (EXPE) 18,92%, dan CF Industries (CF) 18,77%.

Sentimen global turut tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan lonjakan inflasi. Pada 4 Maret 2026, pasar saham Asia rontok dengan indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 4,2%. KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 12% dalam satu sesi dan mencatat penurunan kumulatif lebih dari 18% dalam dua hari, yang disebut sebagai penurunan harian terdalam sepanjang sejarah, di tengah kekhawatiran lonjakan harga minyak akibat risiko penutupan Selat Hormuz.

Di Jepang, Nikkei 225 turun lebih dari 4%, sementara Hang Seng Index Hong Kong ikut bergerak negatif. Tekanan pasar terjadi saat investor melakukan aksi risk off, deleveraging dari saham siklikal dan teknologi menuju aset yang lebih likuid. Dalam periode yang sama, harga minyak mencatat reli mingguan lebih dari 13% dan mata uang regional melemah, termasuk won Korea yang menyentuh level terlemah sejak 2009.

Di sisi kebijakan energi, Amerika Serikat memberikan waiver selama 30 hari kepada India untuk tetap membeli minyak Rusia guna menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah eskalasi konflik dengan Iran yang mengganggu jalur pengiriman energi di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik mendorong harga minyak melonjak, dengan Brent naik sekitar 17,2% dalam sepekan ke sekitar US$84,88 per barel dan WTI meningkat sekitar 21% ke US$80,40 per barel setelah Iran menghentikan lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Kebijakan waiver tersebut juga memungkinkan sekitar 30 juta barel minyak Rusia yang tersimpan di kapal tanker di kawasan Samudra Hindia dan Selat Singapura untuk dijual ke kilang India, sehingga dinilai dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global.

Presiden Donald Trump juga menyatakan AS akan menyediakan asuransi dan jaminan finansial untuk pelayaran komersial yang melintasi Teluk Persia, terutama pengiriman energi, melalui United States Development Finance Corporation (DFC) dengan harga yang disebut “sangat wajar”. Ia menyebut United States Navy siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan, di tengah lonjakan risiko perang dan krisis asuransi laut setelah banyak perusahaan asuransi menarik diri dari perlindungan kecelakaan.

Dari Asia, China menetapkan target pertumbuhan PDB 2026 di kisaran 4,5% hingga 5,0%, yang disebut menjadi target terendah sejak 1991. Pemerintah juga menargetkan inflasi sekitar 2,0%, penciptaan lebih dari 12 juta lapangan kerja, serta defisit fiskal sekitar 4,0% terhadap PDB. Strategi ekonomi lima tahun 2026–2030 menekankan transisi menuju pertumbuhan berbasis konsumsi domestik, teknologi maju, dan kemandirian industri.

Sementara itu di AS, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan Trump diperkirakan akan menerapkan tarif impor global sebesar 15% mulai minggu ini, naik dari tarif sementara 10% yang sudah berjalan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif sebelumnya. Tarif tersebut akan diberlakukan di bawah Section 122 dari Trade Act of 1974 dan hanya berlaku maksimal 150 hari, namun Bessent memperkirakan tarif dapat kembali ke tingkat sebelumnya dalam sekitar lima bulan melalui otoritas tarif lain seperti Section 301 dan Section 232.

Dari sisi korporasi, NVIDIA mengumumkan investasi masing-masing US$2 miliar di Lumentum Holdings dan Coherent sebagai bagian dari perjanjian multiyear yang mencakup komitmen pembelian dan hak kapasitas produksi di masa depan untuk komponen laser serta teknologi optical networking bagi pusat data AI generasi berikutnya.

Di sektor keamanan siber, CrowdStrike melaporkan kinerja kuartal IV 2026 dengan annual recurring revenue (ARR) naik 24% secara tahunan menjadi US$5,25 miliar, sementara total pendapatan mencapai US$1,31 miliar atau naik 23% secara tahunan. Perusahaan juga menyampaikan proyeksi tahun fiskal 2027 yang lebih tinggi dari konsensus untuk pendapatan dan EPS.

Broadcom membukukan pendapatan kuartal I 2026 sebesar US$19,31 miliar atau naik 29% secara tahunan, dengan segmen Semiconductor Solutions tumbuh 52% menjadi US$12,5 miliar. Perusahaan mengumumkan dividen kuartalan US$0,65 per saham serta program buyback senilai US$10 miliar, dan memproyeksikan pendapatan kuartal II sekitar US$22 miliar.

Adapun Berkshire Hathaway memulai kembali program buyback saham setelah hampir dua tahun jeda. Di bawah CEO baru Greg Abel yang menggantikan Warren Buffett pada awal 2026, Abel juga membeli sekitar US$15 juta saham Berkshire. Perusahaan menutup 2025 dengan kas sekitar US$373 miliar, sehingga buyback dinilai menjadi salah satu opsi alokasi modal ketika peluang akuisisi besar masih terbatas.