Pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 1 April 2026, menunjukkan arah yang tidak seragam. Meski sempat dibuka kompak menguat pada sesi pagi, pergerakan masing-masing saham berbeda hingga penutupan, di tengah sentimen ekonomi makro yang masih membayangi sektor keuangan.
Di akhir perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menutup sesi di zona hijau. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berakhir stagnan, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah akibat tekanan jual.
Berikut rincian kinerja saham big banks pada penutupan perdagangan Rabu, 1 April 2026: BBCA ditutup di Rp 6.500 atau naik 0,78%, BBRI ditutup di Rp 3.350 atau naik 0,60%, BMRI ditutup di Rp 4.720 atau tidak berubah (0,00%), serta BBNI ditutup di Rp 3.720 atau turun 1,06%.
Dinamika harga saham perbankan besar pada periode ini turut dikaitkan dengan rilis kinerja keuangan bulanan, khususnya laporan laba bersih Februari 2026 yang diumumkan dalam dua pekan terakhir. Data tersebut menjadi salah satu sentimen yang dinilai membantu menjaga stabilitas pergerakan harga di tengah fluktuasi pasar.
Dalam laporan tersebut, BBCA membukukan laba Rp 9,2 triliun dengan pertumbuhan 2,81% secara tahunan (yoy). BMRI mencatatkan laba Rp 8,9 triliun atau tumbuh 16,7% (yoy). BBRI membukukan laba Rp 7,73 triliun dengan pertumbuhan 17,05% (yoy). Adapun BBNI mencatatkan laba Rp 3,41 triliun atau naik 3,67% (yoy).
Selain faktor kinerja, perhatian investor juga tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga acuan ke depan. Rupiah sempat menyentuh Rp 17.041 per dolar AS pada Selasa, 31 Maret 2026. Pada Rabu, 1 April 2026, rupiah tercatat menguat tipis 0,34% ke level Rp 16.983 per dolar AS, meski ketidakpastian masih menjadi perhatian pasar.
Sejumlah risiko dipantau pelaku pasar apabila rupiah kembali melemah, mulai dari potensi inflasi impor, peluang kenaikan BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar, perlambatan pertumbuhan kredit akibat suku bunga tinggi, hingga peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL). Risiko lainnya adalah potensi capital outflow atau keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.
Di tengah kondisi tersebut, fundamental perbankan yang solid tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, terutama untuk strategi jangka panjang. Namun, sentimen global dan dinamika nilai tukar masih berpotensi memengaruhi pergerakan saham perbankan dalam jangka pendek.