BERITA TERKINI
Sebulan Perang AS-Israel vs Iran, Kapitalisasi Pasar Saham Global Susut US$11,5 Triliun

Sebulan Perang AS-Israel vs Iran, Kapitalisasi Pasar Saham Global Susut US$11,5 Triliun

Pasar saham global terguncang setelah satu bulan pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz serta kerusakan fasilitas energi di kawasan Teluk disebut memicu hilangnya nilai investasi triliunan dolar di bursa saham dunia.

Indeks Kapitalisasi Pasar Bursa Dunia Bloomberg mencatat nilai kapitalisasi pasar turun dari US$157,5 triliun menjadi US$146 triliun dalam sebulan terakhir. Dengan demikian, sekitar US$11,5 triliun—setara kurang lebih Rp182.000 triliun—menguap seiring investor menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian.

Ketegangan regional yang berlangsung sejak 28 Februari mendorong volatilitas pasar. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak sekitar 45% akibat gangguan pasokan. Di saat yang sama, emas justru turun sekitar 15% di tengah fluktuasi tajam, sementara kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global meningkat seiring naiknya biaya energi.

Berikut rapor kinerja sejumlah bursa saham utama per 28 Maret 2026.

Amerika Serikat: S&P 500 kehilangan US$5 triliun
Wall Street mencatat penyusutan kapitalisasi pasar lebih dari US$5 triliun sepanjang Maret. Dow Jones anjlok 7,77% ke 45.167,44, S&P 500 turun 7,4% ke 6.368,85, dan Nasdaq merosot 7,6% menjadi 20.948,36.

Eropa: terkoreksi hingga dua digit
Indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 melemah 9,2%. DAX Jerman mencatat penurunan terdalam sebesar 11,8%, disusul CAC 40 Prancis yang turun 10,2%. FTSE 100 Inggris melemah 8,6%, sementara IBEX 35 Spanyol dan FTSE MIB Italia sama-sama turun di atas 8%.

Asia: tekanan berat di Korea Selatan dan Jepang
Aksi jual juga menekan pasar Asia, dengan Korea Selatan mencatat kinerja terburuk. Kospi terperosok 12,9% dan Asia Dow anjlok 10,2%. Nikkei 225 Jepang turun 9,3% ke 53.373,07, Sensex India melemah 9,5%, sedangkan Hang Seng Hong Kong dan Shanghai China terkoreksi di kisaran 6%.

Eskalasi militer yang berlanjut di Iran diperkirakan masih akan menekan pasar modal global dalam jangka pendek, kecuali muncul sinyal de-eskalasi atau Selat Hormuz kembali dibuka sehingga jalur logistik pulih.