BERITA TERKINI
Sensus Ekonomi 2026 Dinilai Penting untuk Membaca Potensi Pasar dan Daya Beli

Sensus Ekonomi 2026 Dinilai Penting untuk Membaca Potensi Pasar dan Daya Beli

JAKARTA — Sensus Ekonomi 2026 dinilai menjadi instrumen penting untuk memetakan potensi pasar dan perkembangan dunia usaha di Indonesia secara lebih akurat. Pendataan nasional ini diharapkan memberi gambaran menyeluruh mengenai struktur usaha, daya beli masyarakat, serta peluang ekspansi bisnis di berbagai daerah.

Praktisi statistik dan pemerhati ekonomi, Pipit H Sorayan, menilai pemahaman terhadap kekuatan pasar tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah penduduk suatu wilayah. Ia mencontohkan rencana ekspansi ke luar Jawa yang perlu didasarkan pada wilayah mana yang benar-benar memiliki pasar cukup kuat untuk menopang pembukaan outlet baru, sebagaimana dikutip Kamis (12/3/2026).

Menurut Pipit, banyak perusahaan masih mengandalkan angka populasi sebagai indikator utama potensi pasar. Padahal, ukuran pasar yang lebih menggambarkan peluang bisnis ditentukan oleh kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membeli barang atau jasa. Keputusan ekspansi yang hanya didasarkan pada jumlah penduduk dinilai berisiko menyesatkan.

Dalam praktik bisnis, daya beli menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi usaha, strategi harga, hingga model distribusi produk atau layanan. Untuk membaca kekuatan ekonomi suatu wilayah, sejumlah indikator disebut relevan, seperti data pengeluaran konsumsi rumah tangga dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pengeluaran per kapita, serta data konsumsi dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data tersebut dapat menggambarkan pola konsumsi masyarakat sekaligus arah transformasi ekonomi yang sedang berlangsung.

Pipit juga menyoroti perubahan komposisi konsumsi, misalnya meningkatnya belanja non-makanan seperti pendidikan, transportasi modern, hiburan, kesehatan, dan layanan digital. Perubahan ini kerap menjadi tanda tumbuhnya kelas menengah, kelompok yang memiliki ruang belanja lebih besar dan cenderung mempertimbangkan kualitas serta pengalaman dalam memilih produk dan layanan.

Bagi sektor ritel, makanan olahan, teknologi, hingga jasa keuangan, perubahan pola konsumsi tersebut dipandang sebagai indikator penting untuk membaca peluang pasar. Dua wilayah dengan jumlah penduduk yang sama dapat memiliki potensi ekonomi yang berbeda apabila tingkat konsumsi dan daya belinya tidak seimbang.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar domestik kerap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Namun, potensi ini dinilai hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pelaku usaha memahami kondisi ekonomi setiap wilayah secara mendalam.

Dalam konteks itu, kegiatan statistik nasional disebut menjadi sumber informasi penting bagi dunia usaha dan pemerintah. Data mengenai ketenagakerjaan, inflasi, hingga perkembangan sektor usaha dapat membantu memetakan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Sensus Ekonomi 2026 merupakan pendataan nasional yang dilakukan setiap sepuluh tahun untuk mencatat seluruh aktivitas usaha di Indonesia di luar sektor pertanian dan pemerintahan. Melalui sensus ini dapat diketahui jumlah usaha yang beroperasi, sektor yang berkembang, serta distribusi kegiatan ekonomi di berbagai wilayah.

Pendataan mencakup berbagai skala usaha, mulai dari usaha mikro dan kecil hingga perusahaan besar. Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pengembangan usaha serta memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM.

Selain untuk pemerintah, data sensus ekonomi juga menjadi referensi bagi dunia usaha dalam membaca potensi pasar, mengidentifikasi peluang investasi, dan merencanakan ekspansi secara lebih terarah. Pipit menilai keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 sangat bergantung pada partisipasi pelaku usaha dalam memberikan data yang akurat.

“Sensus ini diharapkan mampu menyusun peta usaha Indonesia secara lebih utuh sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah perkembangan ekonomi nasional,” kata Pipit.