BERITA TERKINI
Serangan Siber Mengintai UKM Seiring Meningkatnya Aktivitas Digital

Serangan Siber Mengintai UKM Seiring Meningkatnya Aktivitas Digital

JAKARTA — Meningkatnya pemanfaatan ekosistem digital oleh usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengembangkan bisnis turut diiringi risiko serangan siber yang lebih tinggi. Kondisi ini menuntut pelaku usaha memahami penggunaan teknologi secara benar, sekaligus mempertimbangkan perlindungan teknologi untuk menjaga data dan sistem.

Temuan Kaspersky: Ancaman dari web dan malware meningkat

Laporan Kaspersky Security Network (KSN) mencatat, sepanjang Januari–Desember 2020, sekitar 3 dari 10 atau 30 persen pengguna Kaspersky di Indonesia hampir terinfeksi ancaman yang ditularkan melalui web. Pada periode yang sama, produk Kaspersky mendeteksi 34.516.232 malware atau perangkat lunak berbahaya yang ditransmisikan melalui internet pada komputer partisipan KSN di Indonesia.

KSN juga mencatat lebih dari 4,34 juta upaya serangan yang menargetkan pengguna bisnis di Indonesia. Jumlah tersebut sekitar 51 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 yang tercatat 2,87 juta insiden.

Ancaman kian tersembunyi dan mengincar data

Territory Manager Kaspersky untuk Indonesia, Dony Koesmandarin, dalam paparan bersama media pada Rabu (17/2/2021), menilai angka 30 persen pengguna yang hampir terinfeksi merupakan level yang cukup tinggi. Menurut dia, hal itu sejalan dengan semakin banyaknya UKM yang terhubung ke ekosistem digital, yang disebutnya mencapai sekitar 11 juta.

Dony menjelaskan, karakter perangkat lunak berbahaya juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya bersifat merusak, kini lebih banyak beroperasi secara tersembunyi untuk mengamati hal lain, terutama data. Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan perlindungan data, salah satunya melalui pencadangan (back-up).

Pemahaman teknologi dan edukasi karyawan

Dony menilai, keterkaitan aktivitas manusia dengan ekosistem digital semakin kuat sehingga pemahaman teknologi informasi menjadi kebutuhan, setidaknya yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Ia mencontohkan, di Asia Tenggara, 6 dari 10 orang berbelanja barang sudah dilakukan secara daring.

Bagi pelaku usaha, terutama UKM, ia menekankan pentingnya memahami teknologi yang digunakan dan memberikan pemahaman kepada karyawan agar berhati-hati saat beraktivitas di ruang digital. Menurutnya, kelengahan satu orang saja dapat membuka peluang penyalahgunaan.

  • Memahami teknologi yang digunakan dalam operasional usaha
  • Melindungi data dan melakukan pencadangan data secara berkala
  • Memberikan edukasi keamanan digital kepada seluruh karyawan

Biaya pemulihan dan perlindungan bergantung kebutuhan

Dony menyampaikan tidak ada angka atau biaya pasti untuk membeli teknologi perlindungan dari serangan siber karena bergantung pada rencana dan konsep perlindungan yang diinginkan. Namun, kajian Kaspersky menunjukkan bahwa di Asia Tenggara diperlukan dana sekitar Rp 1 miliar sebagai biaya pemulihan apabila terjadi serangan siber pada sebuah akun berisi data.

General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara, Yeo Siang Tiong, menambahkan bahwa kebutuhan biaya perlindungan data juga ditentukan oleh kebutuhan serta ekosistem digital yang terhubung dengan suatu akun.

Polri menargetkan perluasan tilang elektronik

Di sisi lain, dalam forum Rapat Pimpinan Polri, Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo menyatakan penggunaan teknologi informasi akan terus ditingkatkan dalam pelayanan Polri. Dalam 100 hari, Polri menargetkan minimal 10 kepolisian daerah (polda) dapat menerapkan sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE).

Listyo mengatakan penerapan ETLE merupakan komitmen untuk meningkatkan pelayanan publik dan penegakan hukum, sekaligus menghindari terjadinya interaksi dalam proses layanan.