BERITA TERKINI
SKK Migas: Eksplorasi Hulu Migas Butuh Waktu, Swasembada Energi Minyak Terkendala Kesenjangan Produksi-Konsumsi

SKK Migas: Eksplorasi Hulu Migas Butuh Waktu, Swasembada Energi Minyak Terkendala Kesenjangan Produksi-Konsumsi

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan kegiatan eksplorasi di sektor hulu minyak dan gas (migas) tidak bisa serta-merta menghasilkan produksi dalam waktu singkat. Menurutnya, banyak pihak menginginkan temuan migas dapat segera diperoleh, padahal hasil eksplorasi baru terlihat setelah proses yang memakan waktu.

“Eksplorasi tidak bisa langsung onstream tahun ini atau tahun depan, atau dua tahun lagi. Namun butuh waktu setidaknya empat atau lima tahun lagi baru terlihat hasilnya,” kata Benny dalam bincang santai Media Briefing SKK Migas & IPA, Kamis (31/10/2024), di Jakarta.

Benny menekankan, temuan migas baru akan muncul jika kegiatan eksplorasi dilakukan secara masif. Ia menyebut, semakin banyak aktivitas eksplorasi, semakin besar peluang munculnya discovery, termasuk temuan hidrokarbon berukuran besar.

“Discovery (temuan migas) baru muncul dari kegiatan eksplorasi yang masif. Kita berharap tentunya ke depan ini, ada kegiatan eksplorasi yang masif, supaya dari banyaknya kegiatan itu akan banyak discovery-discovery hydrocarbon yang besar (giant discovery),” ujarnya.

Selain tantangan waktu eksplorasi, Benny juga menyoroti pekerjaan rumah swasembada energi, khususnya untuk minyak. Ia menyebut persoalan utama adalah memperkecil kesenjangan antara produksi dan konsumsi domestik.

Menurut Benny, saat ini produksi minyak Indonesia berada di sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi diperkirakan sekitar 1,5 juta barel per hari. Kondisi tersebut membuat gap antara produksi dan kebutuhan dalam negeri masih sangat besar.

Ia menambahkan, meski ke depan diharapkan ada efisiensi, diversifikasi, dan upaya lain untuk menekan laju pertumbuhan konsumsi, tambahan produksi tetap dibutuhkan. Benny menilai, bahkan bila produksi berhasil meningkat hingga 1 juta barel per hari, kesenjangan dengan konsumsi masih akan tetap ada jika melihat outlook ke depan.

“PR (pekerjaan rumah) utama swasembada energi itu khususnya untuk minyak, itu adalah meminimize gap. Kita kan timpang, antara produksi, apalagi sekarang produksi kita 600 ribu sementara konsumsi mungkin sekitar 1,5 juta, jadi gap nya jauh banget,” ungkapnya.

Benny juga menyampaikan bahwa SKK Migas melihat pencapaian sejak Long Term Planning (LTP) diluncurkan pada 2019 masih memerlukan perjuangan, dengan harapan produksi migas Indonesia dapat meningkat.