Krisis korporasi disebut kian mendesak setelah pandemi COVID-19, seiring meningkatnya tekanan terhadap kondisi keuangan perusahaan di berbagai negara. World Bank (2024) mencatat kebangkrutan korporasi global naik 13% pada 2023. Sementara itu, IMF melaporkan leverage korporasi di negara berkembang meningkat menjadi 87% dari PDB pada 2023, dari 75% pada 2019.
Tekanan tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi ruang perusahaan untuk berinvestasi pada agenda keberlanjutan jangka panjang, yang hasilnya tidak selalu langsung terlihat dalam jangka pendek. Sejumlah literatur menyebut financial distress dipengaruhi faktor makro—seperti stabilitas nasional, kebijakan fiskal, regulasi, dan dukungan pemerintah—serta faktor mikro, termasuk strategi manajerial, pengelolaan utang, dan efisiensi operasional. Namun, kajian yang menilai pendidikan CEO sebagai sumber ketahanan finansial masih terbatas.
Dalam konteks itu, sebuah penelitian menyoroti peran CEO berlatar pendidikan STEM (science, technology, engineering, mathematics). CEO dengan latar STEM dipandang memiliki keunggulan dalam analisis berbasis data, manajemen risiko, efisiensi, serta adopsi teknologi.
Penelitian ini menganalisis pengaruh latar belakang pendidikan CEO di bidang STEM terhadap risiko financial distress perusahaan. Data diambil dari Sustainalytics, dengan sampel akhir 856 perusahaan setelah melalui penyaringan ketat, termasuk mengecualikan sektor keuangan. Latar STEM pada CEO ditetapkan sebagai variabel dummy pendidikan, sedangkan tingkat financial distress diukur menggunakan Altman Z-Score.
Metode analisis menggunakan regresi dengan variabel kontrol yang mencakup karakteristik dewan, intensitas riset dan pengembangan (R&D), serta profil keuangan perusahaan. Untuk memperkuat validitas temuan dan mengurangi potensi bias seleksi maupun endogenitas, penelitian ini juga menerapkan pendekatan Coarsened Exact Matching (CEM), Propensity Score Matching (PSM), dan Two-Stage Least Squares (2SLS).
Hasil penelitian menunjukkan secara konsisten bahwa perusahaan yang dipimpin CEO berlatar STEM memiliki risiko financial distress yang lebih rendah. Analisis heterogenitas menemukan dampak paling kuat pada CEO dengan latar belakang teknik, pada perusahaan di negara maju, serta pada perusahaan berskala kecil.
Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan analitis berbasis data yang diasosiasikan dengan CEO STEM dapat meningkatkan efisiensi dan ketahanan finansial perusahaan. Temuan tersebut dinilai relevan bagi tata kelola perusahaan dan proses pemilihan pemimpin, terutama dalam upaya mendorong inovasi tanpa mengabaikan stabilitas risiko.
Penelitian ini ditulis oleh Iman Harymawan, Santi Novita, Habiburrochman, Fandi Prasetya, dan Rosyadatul Ulufiyah.