Lebaran 2026 kerap menjadi momen meningkatnya arus uang masuk, antara lain dari THR dan berbagai bantuan ekonomi. Namun setelah Idul Fitri berlalu, tidak sedikit keluarga merasakan tabungan menipis dan dompet perlahan kosong akibat lonjakan pengeluaran selama Ramadan hingga Lebaran.
Pengeluaran tersebut biasanya berasal dari kebutuhan mudik, belanja hari raya, hingga tradisi berbagi. Ketika rutinitas kembali normal, rumah tangga pun memasuki fase penyesuaian untuk menata ulang kondisi keuangan agar kembali stabil.
Dosen Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dinamika Surabaya, Rudi Santoso, menyebut situasi ini sebagai fenomena shock konsumsi musiman. Menurutnya, lonjakan pengeluaran dalam waktu singkat tanpa perencanaan lanjutan membuat keuangan rumah tangga perlu diseimbangkan kembali. Ia menilai kondisi “keuangan kembali ke nol” setelah Lebaran merupakan hal yang wajar, tetapi pemulihannya perlu dilakukan secara cepat dan terstruktur.
Salah satu langkah awal yang disarankan adalah melakukan evaluasi kondisi keuangan secara menyeluruh. Evaluasi ini dilakukan dengan menghitung sisa dana, mencatat pengeluaran selama Lebaran, serta memetakan kewajiban yang masih harus dipenuhi. Dari pemetaan itu, masyarakat dapat melihat posisi riil keuangan—apakah sedang defisit, impas, atau masih memiliki surplus terbatas.
Perencana keuangan Rista Zwestika juga menyarankan agar masyarakat mengecek saldo rekening dan uang tunai yang tersisa. Sejumlah pengeluaran besar seperti biaya mudik, THR untuk keluarga, oleh-oleh, servis kendaraan, hingga biaya tambahan selama perjalanan perlu dicatat secara rinci. Bagi yang banyak bertransaksi non-tunai menggunakan kartu debit atau kredit, riwayat transaksi di aplikasi perbankan juga perlu diperiksa untuk mengetahui total pengeluaran secara akurat.