Tren suku bunga acuan bank sentral dunia cenderung menurun hingga awal 2026. Pergerakan ini sejalan dengan masuknya fase stabilisasi moneter yang mengarah pada pelonggaran guna merangsang pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut tercermin dari keputusan sebagian besar negara berkembang yang memilih menahan hingga memangkas suku bunga acuannya.
Melalui penurunan suku bunga, bank sentral berharap biaya pinjaman menjadi lebih murah sehingga konsumsi dan investasi dapat terdorong. Di Indonesia, kecenderungan pelonggaran moneter disebut telah berlangsung sejak setahun terakhir. Sejak Januari 2025 hingga 2026, tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dilaporkan menurun.
Kebijakan suku bunga acuan kerap memengaruhi sentimen pasar modal, baik domestik maupun global. Respons pelaku pasar dapat beragam, bergantung pada tujuan kebijakan di masing-masing negara serta kondisi ekonomi yang menyertainya.
Gambaran mengenai respons tersebut antara lain dibahas dalam jurnal berjudul Stock Market Reactions to Interest Rate Changes: Evidence from Emerging Markets yang ditulis Binali Selman Eren dari Bitlis Eren University dan dimuat dalam Indonesia Capital Market Review (ICMR) Vol. 18 (2026). Studi itu menyimpulkan bahwa pasar modal negara berkembang bereaksi beragam terhadap kebijakan suku bunga bank sentral nasional, bank sentral Amerika Serikat (The Fed), dan bank sentral Uni Eropa (ECB).
Menurut riset yang dirilis Januari 2026 tersebut, pemotongan suku bunga acuan oleh bank sentral nasional di negara berkembang cenderung membuat biaya pinjaman perbankan lebih murah dan mendorong ketertarikan penempatan dana di pasar modal. Dampaknya, indeks saham cenderung menguat. Sebaliknya, kenaikan suku bunga acuan kerap dinilai berdampak negatif bagi pasar modal, meski peneliti juga menekankan bahwa pergerakan indeks saham tidak semata ditentukan oleh kebijakan suku bunga.
Di Indonesia, penguatan indeks saham tercatat pada beberapa momentum pemangkasan suku bunga BI. Saat BI memangkas suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada 21 Mei 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,68 persen ke level 7.142. Penguatan juga terjadi ketika BI mengumumkan pemangkasan suku bunga menjadi 5,25 persen pada 16 Juli 2025, dengan IHSG naik 0,72 persen ke 7.192.
Respons serupa tercatat pada pemangkasan berikutnya. Ketika BI menurunkan BI Rate menjadi 5 persen pada 20 Agustus 2025, IHSG ditutup menguat 0,49 persen ke 7.901. Indeks kembali menguat ke 7.965 saat BI memangkas BI Rate menjadi 4,75 persen pada 17 September 2025.
Namun, riset tersebut juga menyoroti bahwa pasar modal negara berkembang kerap bereaksi berbeda terhadap penurunan suku bunga di negara maju. Dalam sejumlah kasus, penurunan suku bunga The Fed dan ECB justru direspons negatif oleh pasar di negara berkembang. Contohnya, saat The Fed menurunkan Fed Fund Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,5 persen–3,75 persen pada 10 Desember 2025 waktu setempat, IHSG pada 11 Desember 2025 tercatat turun 0,92 persen ke 8.620.
Peneliti mencatat pemotongan suku bunga di bank sentral negara maju dapat memicu reaksi yang lebih hati-hati di negara berkembang sebelum pengumuman, dan dinilai berpotensi menjadi lebih menguntungkan setelahnya. Perbedaan reaksi ini mencerminkan variasi kondisi makroekonomi, struktur pasar keuangan, serta faktor spesifik masing-masing negara.
Dalam kesimpulannya, peneliti menekankan pasar modal negara berkembang seperti Indonesia dinilai lebih rapuh dibandingkan negara maju. Hal itu dikaitkan dengan tingginya ketergantungan pada aliran modal asing, sensitivitas terhadap fluktuasi nilai tukar, serta struktur pasar keuangan yang belum sepenuhnya matang, sehingga pengumuman kebijakan dapat berdampak lebih drastis.