Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri melalui rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memperluas peluang kerja, riset, dan inovasi. Upaya ini disebut selaras dengan tujuan pendidikan berkualitas (SDG 4) serta pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), sekaligus menegaskan pentingnya kemitraan lintas sektor (SDG 17).
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah Employer Meeting 2025 yang digelar di Swiss-Belinn Kemayoran, Jakarta, pada akhir tahun lalu. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara kampus dan dunia usaha, termasuk untuk melakukan asesmen kebutuhan industri serta merancang kurikulum yang dinilai relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan bahwa capaian global universitas dan kolaborasi strategis menjadi tolok ukur kemajuan yang berdampak luas. Dalam beberapa tahun terakhir, UM mencatat capaian di tingkat internasional melalui berbagai peringkat dan akreditasi, di antaranya SCImago Institutions Rankings, THE World University Rankings, AD Scientific Index, serta pengakuan di bidang kemahasiswaan dan riset.
Hariyono juga menyebut jumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) UM meningkat dari 736 pada 2023 menjadi 903 pada 2025. Pada saat yang sama, kerja sama luar negeri UM disebut meningkat dengan 105 mitra aktif yang tersebar di berbagai negara. Peningkatan tersebut dipandang sebagai bukti perluasan jejaring UM dalam memperkaya ekosistem pendidikan tinggi nasional maupun internasional.
Kontribusi mitra industri dan alumni turut menjadi perhatian. Hariyono menekankan bahwa employer reputation—yang menjadi salah satu indikator dalam QS World University Rankings—tidak terlepas dari dukungan mitra industri yang menyerap lulusan, serta alumni yang terlibat dalam berbagai inisiatif kampus.
Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), UM memperluas kesempatan magang, riset kolaboratif, dan pelatihan vokasional. Program ini diarahkan untuk membekali lulusan dengan kompetensi adaptif sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini.
Keterlibatan alumni juga dinilai membuka ruang bagi industri untuk berkontribusi langsung dalam pengembangan kurikulum, pelatihan, hingga penyerapan tenaga kerja. Hal tersebut disampaikan Ning Wahyu dalam rangkaian kegiatan yang sama.
UM menilai Employer Meeting 2025 menjadi contoh upaya membangun sinergi berkelanjutan antara universitas, dunia usaha, dan alumni. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan tidak hanya mempertemukan para pemangku kepentingan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring riset global, memperdalam kemitraan industri, serta memperkuat citra UM di tingkat internasional.
Sejalan dengan semangat kolaborasi, UM menyatakan akan terus membuka ruang dialog untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mempertajam kurikulum dengan masukan industri, dan mempercepat penyerapan lulusan agar siap bersaing di pasar kerja global.

