Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali menghadapi ujian ketahanan di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Memasuki pertengahan April 2026, berbagai konflik geopolitik internasional—mulai dari hubungan Iran-Amerika, ketegangan Tiongkok-Taiwan, hingga konflik berkepanjangan Ukraina dan Rusia—dinilai memberi tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
Coach Practicioner UMKM sekaligus Ketua Inkubator Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar, Dr. Basri Basir, MR, SE., M.Ak., M.Bns., C.Bc, menekankan bahwa UMKM memiliki posisi yang sangat penting dalam perekonomian. Ia menyebut, berdasarkan literatur dan pengalaman empiris, UMKM kerap terbukti menjadi penopang ekonomi, terutama bagi negara berkembang saat krisis.
Dalam perbincangan pada Kamis, 16 April 2026, Basri mengingatkan tiga tantangan utama yang perlu diantisipasi pelaku UMKM di Indonesia. Tantangan pertama adalah potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurutnya, meski pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga untuk melindungi daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil, pelaku usaha tetap perlu mewaspadai kemungkinan perubahan kebijakan ke depan.
Tantangan kedua adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Basri menilai kondisi perekonomian Amerika yang belum stabil dapat berdampak pada mata uang domestik. Bagi UMKM yang bergantung pada pasar global atau instrumen keuangan internasional, situasi ini menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan arus kas.
Sementara tantangan ketiga berkaitan dengan ketergantungan pada bahan baku impor. Basri menyebut masih banyak komoditas yang menjadi bahan dasar produksi UMKM harus didatangkan dari luar negeri. Jika harga naik atau rantai pasok global terganggu akibat konflik geopolitik, biaya produksi berpotensi meningkat dan menekan margin keuntungan pelaku usaha di tingkat lokal.
Menghadapi tekanan tersebut, Basri mengimbau pelaku UMKM untuk segera menyesuaikan strategi secara mandiri. Ia menekankan pentingnya efisiensi operasional serta upaya mencari alternatif bahan baku lokal guna meminimalkan dampak ketidakpastian ekonomi global.
Di akhir perbincangan, Basri menilai UMKM memiliki fleksibilitas lebih tinggi dibandingkan korporasi besar. Dengan perencanaan matang dan antisipasi sejak dini terhadap faktor BBM, nilai tukar, serta bahan baku, ia berharap UMKM di Makassar maupun secara nasional tetap mampu bertahan dan terus berperan sebagai penopang perekonomian.