BERITA TERKINI
Vietnam Dorong Penguatan Pasar Modal untuk Biayai Pembangunan di Tengah Tantangan Global

Vietnam Dorong Penguatan Pasar Modal untuk Biayai Pembangunan di Tengah Tantangan Global

Vietnam menilai penguatan pasar modal kian mendesak untuk memobilisasi sumber daya pembangunan di tengah lingkungan global yang semakin kompleks. Tren baru seperti keuangan hijau, aset digital, dan penerapan standar tata kelola internasional disebut turut menambah tuntutan terhadap sistem keuangan.

Kepala Ekonom Bank Investasi dan Pembangunan Vietnam (BIDV) Dr. Can Van Luc mengatakan ekonomi Vietnam memasuki fase perkembangan baru ketika pertumbuhan global cenderung melambat, sementara risiko geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasokan meningkat. Menurutnya, kondisi ini membuat ekonomi lebih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama saat banyak negara mengadopsi kebijakan keuangan baru yang menuntut Vietnam beradaptasi lebih cepat.

Ia menilai, meski sektor keuangan Vietnam telah tumbuh signifikan setelah lebih dari 16 tahun berkembang pesat, risiko interoperabilitas antar pasar masih tinggi. Struktur pasar keuangan juga dinilai masih sangat condong ke perbankan, sementara pasar modal dan lembaga keuangan non-bank belum berkembang secara proporsional. Sejumlah persoalan mendasar masih perlu dibenahi, antara lain keamanan data, infrastruktur keuangan, sistem pelaporan yang sesuai standar internasional, pendidikan keuangan, serta perlindungan konsumen.

Dari sisi kebijakan, Wakil Ketua Komite Kebijakan dan Strategi Pusat Nguyen Duc Hien menyatakan sumber daya keuangan bagi dunia usaha di Vietnam masih bergantung terutama pada sistem perbankan. Ia menyoroti pasar obligasi sebagai saluran mobilisasi modal penting yang masih memiliki ruang pengembangan besar. Saat ini, ukuran pasar obligasi sekitar 23,1% dari PDB, jauh di bawah target 47% dari PDB dan juga lebih rendah dibanding banyak negara di kawasan. Karena itu, pengembangan pasar modal—baik saham maupun obligasi—dipandang berperan sangat penting dalam memobilisasi sumber daya bagi perekonomian.

Dari perspektif pengelolaan pasar, Wakil Ketua Komisi Sekuritas Negara Bui Hoang Hai menyebut modernisasi infrastruktur perdagangan membawa perubahan besar bagi pasar saham. Ia menjelaskan, sebelum sistem perdagangan KRX diterapkan, likuiditas pasar berada di kisaran 13.000–14.000 miliar VND per sesi dengan 500.000–700.000 order per hari. Setelah sistem beroperasi, likuiditas meningkat menjadi rata-rata lebih dari 29.000 miliar VND per sesi, setara lebih dari 1 miliar dolar AS, dengan sekitar 3 juta order perdagangan per hari.

Tahun 2025 juga menjadi tonggak penting ketika pasar saham Vietnam secara resmi ditingkatkan statusnya oleh FTSE Russell dari pasar perbatasan menjadi pasar negara berkembang sekunder. Namun, tantangan disebut masih besar karena pasar dinilai memiliki likuiditas tinggi sekaligus volatilitas tinggi, antara lain karena investor individu menyumbang 85–95% dari total nilai transaksi. Kondisi itu membuat pasar dipersepsikan berisiko lebih tinggi dan dapat meningkatkan biaya penggalangan modal bagi perusahaan.

Untuk meningkatkan efisiensi pasar saham, Bui Hoang Hai mengatakan Komisi Sekuritas Negara berfokus menghapus hambatan, meningkatkan keterbukaan, dan memenuhi standar yang lebih tinggi dari FTSE Russell serta MSCI. Otoritas juga mempelajari perluasan akses bagi investor asing, termasuk kemungkinan perdagangan langsung melalui perusahaan pialang global, serta memperkuat mekanisme konektivitas informasi antar organisasi infrastruktur pasar. Modernisasi infrastruktur perdagangan dan kliring disebut akan terus dilanjutkan untuk mengakomodasi peningkatan volume transaksi.

Bagi perusahaan yang belum memenuhi syarat untuk tercatat di bursa, pasar obligasi dinilai tetap menjadi saluran penting untuk penggalangan modal. Namun, penerbitan diharapkan dikaitkan dengan jaminan atau peringkat kredit dan melibatkan pengawasan organisasi serta asosiasi perantara untuk meningkatkan transparansi. Sementara itu, isu baru seperti aset digital dan teknologi blockchain disebut masih didekati secara hati-hati melalui program percontohan, dengan sebagian sektor didorong berani menguji dan meningkatkan skala jika terbukti efektif.

Dalam jangka panjang, Dr. Can Van Luc menilai model pembangunan Vietnam tidak hanya perlu mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga selaras dengan stabilitas politik, perlindungan lingkungan, dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Ia menyebut model baru sebaiknya mencakup empat elemen utama: pertumbuhan yang cepat dan berkelanjutan; pergeseran fokus ke produktivitas serta ilmu pengetahuan dan teknologi; kombinasi investasi, adopsi teknologi, dan inovasi; serta mobilisasi dan alokasi sumber daya secara efisien.

Berdasarkan pengalaman internasional, ia menambahkan banyak negara dengan pertumbuhan tinggi mencatat kontribusi modal hingga 40–50% terhadap pertumbuhan. Sementara itu, total investasi sosial Vietnam saat ini sekitar 33% dari PDB, sedangkan kebutuhan modal untuk pembangunan ekonomi hijau, adaptasi perubahan iklim, dan inovasi teknologi terus meningkat. Karena itu, Vietnam dinilai perlu mempertahankan pertumbuhan investasi sekitar 10% per tahun dan mempertimbangkan pembentukan dana darurat nasional untuk memperkuat kemampuan merespons guncangan ekonomi.

Ia juga menekankan perlunya perbaikan institusi dan pengembangan pasar modal yang lebih seimbang guna mengurangi ketergantungan pada kredit bank, termasuk percepatan pengoperasian pasar karbon, promosi pasar aset digital, dan peningkatan transparansi pasar keuangan. “Yang terpenting, kita perlu membangun strategi komprehensif untuk memobilisasi, mengalokasikan, dan memanfaatkan sumber daya untuk pembangunan, sambil menjaga stabilitas ekonomi makro sehingga aliran modal bergeser dari spekulasi ke produksi dan bisnis,” kata Dr. Can Van Luc.