BERITA TERKINI
Vietnam Perkuat Keamanan Energi di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Masyarakat dan Dunia Usaha Diminta Jaga Pasokan

Vietnam Perkuat Keamanan Energi di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Masyarakat dan Dunia Usaha Diminta Jaga Pasokan

Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memunculkan ancaman baru terhadap stabilitas pasar energi global. Serangan militer terhadap Iran oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 disebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan yang kerap dianggap sebagai “jantung energi” dunia.

Situasi memburuk ketika Iran menyatakan blokade Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 13 juta barel minyak per hari atau setara 31% dari total minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut. Dampaknya, ratusan kapal tanker dilaporkan terpaksa berlabuh atau mengalihkan rute memutar melalui Tanjung Harapan, yang secara signifikan menambah biaya dan waktu pengiriman. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Untuk mengantisipasi risiko pasokan, sejumlah negara mengambil langkah cepat guna melindungi keamanan energi domestik. Thailand, China, Korea Selatan, dan Jepang dilaporkan menginstruksikan kilang minyak untuk membatasi atau menangguhkan sementara ekspor bensin dan solar. Beberapa di antaranya juga menghentikan penandatanganan kontrak baru serta menegosiasikan pembatalan pengiriman yang sebelumnya telah disepakati.

Selain itu, sejumlah kilang di Jepang, Indonesia, dan India mulai mengurangi kapasitas produksi untuk memprioritaskan pasokan bagi pasar domestik. Langkah-langkah ini menunjukkan pasar energi global memasuki fase sensitif, ketika banyak negara secara bersamaan memperketat pasokan untuk menekan risiko.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Vietnam menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keamanan energi nasional. Perdana Menteri mengeluarkan Keputusan No. 385/QD-TTg yang membentuk gugus tugas untuk menjamin keamanan energi dalam menghadapi perkembangan konflik yang dinilai semakin kompleks di Timur Tengah. Kementerian Perindustrian dan Perdagangan juga membentuk gugus tugas khusus untuk memantau situasi dan memberikan rekomendasi solusi pengelolaan.

Berdasarkan laporan Grup Perusahaan Minyak Nasional Vietnam (PVN), produksi minyak mentah saat ini sekitar 180.000 barel per hari, dengan sekitar 150.000 barel per hari dipasok ke Kilang Dung Quat.

Dari sisi kapasitas, Kilang Dung Quat disebut dapat mempertahankan operasi stabil pada tingkat sekitar 118% setidaknya hingga akhir April 2026 serta memastikan pasokan produk minyak bumi sesuai kontrak dengan para pedagang utama. Sementara itu, Kilang dan Pabrik Petrokimia Nghi Son dilaporkan tetap beroperasi stabil dengan pasokan bahan baku yang terjamin untuk rencana produksi ke depan.

Dengan demikian, dua kilang domestik utama Vietnam—Dung Quat dan Nghi Son—dinyatakan masih beroperasi normal dan dapat memenuhi pasokan produk minyak bumi kepada pedagang utama sesuai kontrak yang telah ditandatangani hingga akhir Maret 2026.

Selain mengandalkan produksi dalam negeri, pedagang grosir minyak bumi juga terus melakukan impor produk olahan untuk memasok pasar, meski biaya impor dan transportasi meningkat. Dengan dukungan cadangan beredar yang diatur di berbagai perusahaan, pasokan produk minyak bumi ke pasar pada Maret 2026 disebut pada dasarnya terjamin.

Namun, pemerintah mengingatkan bahwa apabila konflik di Timur Tengah berlanjut hingga April 2026, pasar dapat menghadapi kesulitan yang lebih besar. Karena itu, pemerintah, Perdana Menteri, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya disebut sedang berupaya mengatasi hambatan dan menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi produksi serta impor produk minyak bumi, guna memastikan pasokan cukup dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, stabilitas pasar minyak bumi domestik tidak hanya bergantung pada kebijakan regulator, tetapi juga kerja sama masyarakat dan pelaku usaha. Kementerian Perindustrian dan Perdagangan merekomendasikan masyarakat mempraktikkan penghematan energi, memprioritaskan transportasi umum, serta mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik dan bahan bakar nabati untuk mengurangi ketergantungan pada bensin.

Masyarakat juga diminta tetap tenang menghadapi fluktuasi pasar dan menghindari kepanikan maupun penimbunan bensin yang tidak perlu. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasar dan memastikan pasokan barang penting bagi perekonomian.

Bagi dunia usaha di sektor perminyakan, pemerintah menekankan pentingnya menjaga pasokan stabil ke pasar sebagai tanggung jawab utama. Pelaku usaha diminta meningkatkan tata kelola, menghindari penimbunan, serta tidak menahan penjualan untuk mengantisipasi kenaikan harga. Mereka juga didorong proaktif menjaga pasokan di sistem distribusi masing-masing.

Dalam situasi volatilitas pasar yang tinggi, upaya menjaga kelancaran rantai pasokan—meskipun dapat berdampak pada penurunan keuntungan—dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan dan komitmen terhadap negara. Pemerintah menilai, ketika negara, dunia usaha, dan masyarakat berbagi tanggung jawab serta menggunakan energi secara efisien, stabilitas pasar minyak bumi domestik dapat lebih terjaga, sekaligus mendukung keamanan energi dan pembangunan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.