SURABAYA — Gejolak global akibat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 dinilai membawa dampak luas terhadap perekonomian dunia, termasuk industri di Indonesia. Salah satu faktor yang disorot adalah penutupan Selat Hormuz akibat serangan tersebut, mengingat kawasan itu selama ini menjadi jalur strategis lalu lintas kapal minyak dan distribusi barang secara global.
Direktur Utama PT Moga Djaja, Yusuf Wiharto, mengatakan 2026 menjadi periode yang berat bagi sektor industri karena berbagai sentimen negatif sudah muncul sejak triwulan pertama. Ia menilai serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menjadi salah satu peristiwa yang paling jelas dampaknya bagi dunia usaha.
Menurut Yusuf, Selat Hormuz memiliki peran penting dalam rantai pasok global. Jika jalur tersebut terganggu, distribusi minyak berpotensi terhambat dan efeknya dapat merembet hingga Indonesia. Ia menekankan bahwa bahan bakar memegang peranan kunci dalam distribusi barang, termasuk bagi kegiatan industri.
Di sisi lain, Yusuf menyebut sekitar 80% bahan baku Viva Cosmetic masih didominasi impor. Bahan baku tersebut, kata dia, berasal dari sejumlah negara, termasuk Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.
Yusuf—yang juga salah satu pemegang saham PT Vitapharm—menambahkan, selama tiga tahun terakhir perusahaan tidak menaikkan harga produk. Kebijakan itu, menurutnya, diambil dengan berbagai pertimbangan, terutama terkait daya beli konsumen. Di saat yang sama, perusahaan tetap berupaya mempertahankan kualitas dan terus berinovasi untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Ia mengakui keputusan menahan kenaikan harga bukan hal mudah, mengingat biaya operasional terus meningkat. Yusuf mencontohkan tekanan biaya akibat inflasi serta kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang disebutnya mencapai 10%.
Untuk menyesuaikan strategi di tengah situasi yang menantang, perusahaan juga berencana mengurangi jumlah peluncuran produk baru pada tahun ini. Jika biasanya bisa merilis hingga 20 produk baru dalam setahun, pada 2026 Viva menyiapkan sekitar 5 hingga 10 produk baru. Meski demikian, Yusuf menegaskan perusahaan tetap mengandalkan inovasi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Yusuf menyatakan perusahaan tetap menargetkan pertumbuhan penjualan dua digit pada 2026. Ia menyebut pihaknya optimistis bisa mencatat pertumbuhan di atas 15%.

