BERITA TERKINI
Wacana Kurikulum Pasar Modal untuk Siswa SD Dikritik, Praktisi Soroti Dominasi Bandar dan Pentingnya Literasi Dasar

Wacana Kurikulum Pasar Modal untuk Siswa SD Dikritik, Praktisi Soroti Dominasi Bandar dan Pentingnya Literasi Dasar

Wacana memasukkan materi pasar modal ke dalam kurikulum siswa sekolah dasar (SD) menuai kritik dari praktisi keuangan. Financial coach Philip Mulyana menilai langkah tersebut belum mendesak dan berisiko, terutama karena kondisi pasar modal Indonesia dinilai belum kondusif bagi investor ritel, apalagi anak-anak.

Philip mengatakan pola permainan di pasar modal sejak 2008 hingga kini menurutnya tidak banyak berubah. Ia menyoroti keberadaan bandar yang disebut masih mendominasi dan memengaruhi pergerakan pasar. Dalam praktiknya, kata dia, bandar dapat menggunakan berbagai cara, termasuk bekerja sama dengan oknum di perusahaan sekuritas melalui penerbitan riset titipan, serta memanfaatkan pemengaruh dan komunitas untuk mendorong kepentingan tertentu.

Menurut Philip, situasi tersebut membuat investor ritel berada pada posisi rentan. Ia juga menyinggung kualitas penawaran umum perdana saham (IPO) yang dinilainya sering tidak memadai. Saat IPO yang bagus muncul, kata Philip, porsi untuk investor ritel cenderung kecil. Sebaliknya, saham dengan alokasi besar justru kerap dinilai kurang berkualitas.

Atas kondisi itu, Philip menilai pengenalan pasar modal kepada anak-anak tanpa perlindungan dan regulasi yang lebih kuat berpotensi berbahaya. Ia menekankan pentingnya mengajarkan literasi keuangan dasar sebelum masuk ke materi investasi. Menurutnya, piramida pengelolaan keuangan pribadi dimulai dari pengelolaan uang yang baik, kemudian manajemen risiko, baru setelah itu investasi. Ia menilai fondasi tersebut belum diajarkan secara sistematis.

Philip juga mengingatkan adanya kekeliruan umum dalam memandang investasi sebagai cara menutup defisit arus kas. Ia menilai yang semestinya dilakukan adalah mengelola pengeluaran dan pendapatan terlebih dahulu, bukan menjadikan investasi sebagai jalan pintas untuk menutup kebutuhan pengeluaran besar.

Pemerintah menyatakan pengenalan pasar modal di tingkat SD bertujuan meningkatkan literasi keuangan sejak dini. Namun Philip mengingatkan, tanpa pembenahan struktur pasar dan penguatan regulasi, literasi investasi justru berisiko merugikan. Ia menilai pasar modal perlu lebih bersih dan transparan terlebih dahulu. Selama dominasi bandar masih kuat, kata dia, risiko tetap tinggi bahkan bagi investor berpengalaman, terlebih bagi anak-anak.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan edukasi dan literasi pasar modal kepada masyarakat luas perlu terus ditingkatkan karena tingkat partisipasi masyarakat di pasar saham masih relatif rendah. Ia juga menyebut dirinya mulai mengenal pasar modal sejak usia muda. Menurutnya, pengetahuan mengenai pasar modal seharusnya tidak hanya diberikan di perguruan tinggi, melainkan dapat dikenalkan sejak sekolah dasar agar generasi muda lebih akrab dengan bursa efek.

Sri Mulyani mengatakan upaya tersebut memerlukan kerja sama, termasuk terkait bagaimana materi masuk ke kurikulum serta cara penyampaiannya agar siswa terbiasa memahami transaksi. Di sisi lain, ia juga mendorong tersedianya instrumen investasi yang lebih terjangkau bagi masyarakat kecil. Ia mencontohkan Surat Berharga Negara (SBN) yang telah dibuat dalam pecahan sangat kecil sehingga basis investor SBN kini mencakup pelajar dan mahasiswa yang mulai membeli SBN. Ia berharap hal serupa dapat terjadi pada saham.