Jakarta – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menilai perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif perlu dibaca sebagai sinyal bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mempercepat pembenahan pasar modal.
Menurut Mari, OJK dan BEI telah merespons dengan menyusun delapan rencana reformasi integritas pasar modal yang ditujukan untuk memperdalam pasar dan memperkuat transparansi. Ia menekankan implementasi menjadi kunci, termasuk dalam proses pemilihan kepemimpinan baru di OJK dan BEI.
“Delapan langkah yang akan dilakukan ditunggu oleh investor, benar-benar itu diimplementasi dan pemilihan dari leadership baru di OJK ini dan di bursa itu perlu dilakukan dengan proper, baik, transparan, dan prosesnya menghasilkan leadership baru yang profesional dan tinggi integritasnya,” kata Mari dalam Economic Outlook di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.
Delapan rencana aksi tersebut mencakup kebijakan baru terkait free float untuk meningkatkan likuiditas, transparansi Ultimate Beneficial Owner (UBO), penguatan data kepemilikan saham, hingga demutualisasi BEI. Langkah lain yang masuk dalam paket reformasi meliputi penegakan aturan dan sanksi, penguatan tata kelola emiten, pendalaman pasar terintegrasi, serta kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.
Sebelum perubahan outlook oleh Moody’s, Morgan Stanley Capital International (MSCI) lebih dulu mengumumkan pembekuan rebalancing indeks periode Februari 2026 yang dikaitkan dengan isu free float. Situasi tersebut disebut turut memengaruhi kepercayaan investor, tercermin dari terjadinya trading halt setelah indeks turun hingga 8% serta derasnya net foreign sell.
Mari menilai kondisi ini seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat reformasi, memulihkan pertumbuhan pasar modal, dan mengembalikan arus masuk investor asing.
“Jadi ini adalah momen buat kita melakukan reform. Untuk kita bisa tumbuh lebih besar, ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk membenah dan mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mari mencontohkan India yang sempat mengalami arus keluar investor asing sebesar USD4 miliar. Setelah reformasi dilakukan, arus dana asing kembali masuk hingga USD37 miliar atau meningkat sembilan kali lipat.

