Gojek kembali menjadi perhatian pelaku pasar, bukan hanya karena langkahnya di industri teknologi, tetapi juga karena sejumlah aksi korporasi yang memicu respons besar di bursa saham. Dalam beberapa bulan terakhir, keterlibatan Gojek dalam pembelian saham Matahari Putra Prima (MPPA) dan Bank Jago (ARTO) ikut mendorong lonjakan harga kedua saham tersebut, baik saat masih berupa rumor maupun setelah ada konfirmasi.
Di tengah rangkaian langkah itu, pasar juga menanti rencana penawaran umum perdana saham (IPO) GoTo—entitas hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia—yang disebut-sebut akan melantai di bursa Indonesia dan Amerika Serikat pada 2021.
Lonjakan MPPA dan masuknya Gojek
Saham MPPA sempat lama bergerak di kisaran Rp100-an sejak 2019. Pada 2015, saham ini pernah berada di level Rp4.000-an, namun kemudian terus melemah seiring tekanan industri ritel yang terdesak pertumbuhan e-commerce. Pandemi turut memperberat kondisi tersebut hingga MPPA sempat berada di level Rp80-an pada akhir Januari 2021.
Situasi berubah pada Maret 2021. Harga saham MPPA mulai bergerak naik dan terus melesat hingga menyentuh level Rp900-an pada Mei 2021. Secara year to date hingga pertengahan Mei 2021, kenaikannya disebut lebih dari 700%.
Kenaikan tersebut memunculkan spekulasi mengenai sentimen yang mendorong pergerakan saham, mengingat kondisi industri ritel saat itu dinilai belum cukup kuat menjadi katalis positif. Pada April 2021, beredar rumor bahwa Gojek masuk sebagai salah satu investor MPPA. Pergerakan harga saham terus berlanjut hingga akhirnya ada penjelasan resmi.
Pada 11 Mei 2021, Multipolar—perusahaan yang mengelola MPPA—menyampaikan kepada Bursa Efek Indonesia bahwa sejumlah investor membeli 11,9% saham MPPA, yaitu:
- Panbridge Investment Ltd: 3,33%
- Pradipa Darpa Bangsa: 4,76%
- Threadmore Capital Ltd: 3,81%
Pradipa Darpa Bangsa disebut sebagai perusahaan terafiliasi yang digunakan Gojek dalam transaksi tersebut. Kepemilikan Pradipa terdiri dari 99,996% oleh Gojek dan 0,004% oleh Dompet Karya Anak Bangsa. Dalam struktur perusahaan itu, Andre Soelistyo (Co-CEO Gojek) tercatat sebagai komisaris, sementara Hans Patuwo sebagai Presiden Direktur dan Thomas Kristian Husted sebagai direktur.
Manajemen MLPL menjelaskan masuknya pemegang saham baru tersebut karena MPPA dinilai sebagai investasi strategis dengan potensi tingkat pengembalian yang baik ke depan. Dana hasil penjualan saham disebut akan diinvestasikan kembali ke MPPA untuk memperkuat neraca dan menyediakan modal kerja guna mendorong pertumbuhan berikutnya.
Adapun kemungkinan kerja sama yang mengemuka antara lain layanan pemesanan produk gerai MPPA melalui aplikasi Gojek serta dukungan pengembangan penjualan online. Terlepas dari bentuk kolaborasi yang akan dijalankan, pembelian saham tersebut dinilai pasar sebagai sinyal positif, tercermin dari apresiasi harga saham MPPA.
Pola serupa pada ARTO: rumor yang mendahului fakta
Perjalanan keterlibatan Gojek di Bank Jago (sebelumnya Bank Artos) juga diawali rumor. Pada 2019, beredar spekulasi bahwa Bank Artos akan menjadi “Bank Gojek”, namun manajemen kala itu membantahnya. Situasi tersebut dipahami karena aksi korporasi merupakan informasi sensitif bagi perusahaan terbuka.
Lebih dari setahun kemudian, pada Desember 2020, Gojek mengumumkan pembelian sebagian saham Bank Jago. Dalam periode sebelum pengumuman itu, harga saham ARTO sudah melonjak tajam—disebut mencapai lebih dari 5.000%—sehingga rumor dinilai pasar sebagai “fakta yang tertunda”.
Kasus MPPA dan ARTO menunjukkan bahwa rumor keterlibatan Gojek pada emiten terbuka dapat berdampak besar terhadap pergerakan harga saham. Prospek ekonomi digital dan ekspektasi akselerasi bisnis menjadi salah satu sentimen yang kerap dikaitkan dengan Gojek.
Mengapa Gojek menjadi magnet investor?
Dalam satu dekade, Gojek berkembang dari layanan berbasis call center ojek pada 2010 menjadi perusahaan teknologi besar. Operasinya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga merambah Singapura, Thailand, dan Vietnam. Disebutkan jumlah pengemudi yang bekerja sama dengan Gojek mencapai lebih dari 2 juta di Asia Tenggara, dengan 900.000 merchant.
Aplikasi Gojek yang diluncurkan pada 2015 juga berkembang dari layanan ojek online menjadi platform dengan lebih dari 20 layanan, mulai dari pengiriman barang hingga hiburan. Gojek tercatat sebagai unicorn pertama di Indonesia (valuasi lebih dari US$1 miliar) dan kemudian berstatus decacorn (valuasi lebih dari US$10 miliar).
Sebuah studi yang dikutip dalam data menyebut kontribusi Gojek ke ekonomi Indonesia mencapai Rp104,6 triliun. Ekosistem Gojek juga ditaksir berkontribusi sekitar 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2019 yang disebut lebih dari Rp1.000 triliun. Pencapaian ini membentuk ekspektasi bahwa kolaborasi dengan Gojek dapat meningkatkan prospek perusahaan mitra, termasuk emiten yang sahamnya diakuisisi.
IPO GoTo dan potensi menjadi yang terbesar
Setelah pembelian saham MPPA dan ARTO, perhatian pasar beralih pada rencana IPO GoTo, merek hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia. GoTo disebut-sebut akan melantai di bursa Indonesia dan Amerika Serikat pada 2021 melalui skema dual listing. Ada pula spekulasi bahwa IPO dapat dilakukan dengan bantuan SPAC (Special Purpose Acquisition Company).
Menurut laporan CB Insights yang dikutip, valuasi GoTo dapat mencapai US$40 miliar atau lebih dari Rp500 triliun. Jika terealisasi, nilainya berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah bursa efek. Sebagai pembanding, IPO terbesar terakhir di Bursa Efek Indonesia yang disebut dalam data adalah Adaro Energy, dengan dana yang dihimpun Rp12,5 triliun.
Ukuran GoTo juga tercermin dari sejumlah indikator yang dihimpun Big Alpha. Kombinasi Gojek dan Tokopedia disebut memiliki:
- Lebih dari 100 juta pengguna aktif
- Lebih dari 11 juta mitra usaha
- 1,8 miliar transaksi sepanjang 2020
- Nilai transaksi (GTV) US$22 miliar atau lebih dari Rp300 triliun pada 2020
- Lebih dari 2 juta mitra pengemudi
Ke depan, GoTo disebut akan membawahi tiga bisnis utama: Gojek, GoTo Financial, dan Tokopedia. GoTo Financial merupakan lini layanan keuangan yang dikelola Gojek, mencakup dompet digital, paylater, hingga layanan investasi melalui platform digital.
Secara bisnis, penggabungan Gojek dan Tokopedia menjadikan GoTo sebagai entitas besar dengan kombinasi layanan yang dinilai sulit disaingi. Gojek memiliki pesaing seperti Grab, sementara Tokopedia berhadapan dengan kompetitor seperti Shopee atau Bukalapak. Namun, para pesaing tersebut tidak berada dalam satu entitas gabungan seperti GoTo, yang membuat rencana IPO-nya menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pasar.

