Aset pasar negara berkembang melemah pada Kamis (12/3/2026) seiring perang Iran memasuki hari ke-13 tanpa tanda mereda. Lonjakan harga energi dan meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong investor mengurangi paparan pada aset berisiko.
Data pasar menunjukkan indeks saham negara berkembang turun sekitar 1,1%, sementara mata uangnya melemah 0,33%. Tekanan ini muncul ketika konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran akan guncangan energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran perlu dituntaskan. Di sisi lain, Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel setelah serangan terhadap kapal tanker di perairan Irak dan kapal lain di sekitar Selat Hormuz.
Harga minyak yang telah menembus US$100 per barel kembali memicu kekhawatiran pasar akan potensi krisis energi baru. Risiko tersebut dinilai dapat menekan pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi.
Chief Investment Officer UBP Michael Lok menilai eskalasi di sekitar Iran telah berubah dari sekadar risiko geopolitik menjadi potensi guncangan makroekonomi. Menurutnya, dampak terbesar adalah kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang meningkat, terutama bagi Eropa dan sebagian besar Asia yang sensitif terhadap harga energi.
Tekanan pasar terlihat di sejumlah negara. Saham Israel turun 1% dan berpotensi mencatat kinerja mingguan terburuk sejak Oktober 2023, sementara mata uang shekel melemah ke level terendah hampir dua pekan.
Di Dubai, indeks saham anjlok 3,3% dan menyentuh level terendah sejak Juni setelah kehilangan hampir 20% dalam delapan sesi perdagangan terakhir.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian, investor juga beralih ke dolar AS yang dinilai lebih aman. Mata uang negara-negara yang rentan terhadap lonjakan harga energi cenderung ditinggalkan.
Di Eropa Timur, indeks saham kawasan turun 0,6%. Mata uang forint Hungaria relatif stabil, namun lembaga pemeringkat memperingatkan lonjakan harga energi yang berkepanjangan berpotensi menekan peringkat kredit negara tersebut. Seorang analis senior S&P menyebut tekanan itu dapat muncul bila kenaikan harga energi berlangsung lama.
Di Afrika Selatan, bursa Johannesburg tercatat sudah turun sekitar 10% sejak awal Maret, sehingga berpotensi mencatat penurunan bulanan pertama setelah 14 bulan berturut-turut menguat.
Perhatian investor juga tertuju pada Turki. Bank sentral negara tersebut diperkirakan menahan suku bunga di level 37% setelah sebelumnya melakukan pelonggaran kebijakan, di tengah inflasi yang kembali menunjukkan tanda-tanda menguat serta meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Iran-AS.
Di Pakistan, obligasi dolar internasional bergerak bervariasi. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pembicaraan terkait evaluasi program bailout menunjukkan “kemajuan signifikan”, meski kesepakatan tingkat staf belum tercapai. Negosiasi masih berlanjut karena para pejabat juga mempertimbangkan dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang terus memanas.

