Pasar saham Indonesia menjadi sorotan dalam sebulan terakhir di tengah sejumlah isu, mulai dari transparansi data kepemilikan saham, ketidakseimbangan penyebaran informasi (asymmetric information) antara investor ritel dan pelaku bermodal besar, hingga dugaan manipulasi pergerakan harga oleh segelintir pihak melalui transaksi orang dalam (insider trading).
Menanggapi kondisi tersebut, Bareksa menyatakan dukungan terhadap reformasi pasar modal Indonesia yang dilakukan regulator, pemangku kepentingan, dan pelaku pasar. CEO dan Co-Founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra mengatakan pihaknya mendukung langkah regulator untuk memberantas praktik yang dinilai tidak berpihak pada investor ritel demi menjaga integritas pasar modal Indonesia di mata investor. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut Karaniya, teknologi digital dapat diberdayakan untuk meminimalkan praktik “goreng saham”, terutama melalui pemanfaatan artificial intelligence (AI). Ia menilai peningkatan jumlah investor pasar modal dalam 10 tahun terakhir menjadi salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan teknologi pada sisi distribusi.
Dalam konteks pengawasan, AI dinilai dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penerimaan peringatan (alert) atas indikasi praktik manipulasi saham. Selain itu, inovasi AI juga disebut berpotensi membantu masyarakat Indonesia yang tingkat literasi produk pasar modal masih rendah. Berdasarkan survei OJK 2025, literasi pasar modal tercatat 17,78%, sementara literasi perbankan mencapai 65%.
Karaniya juga menyampaikan bahwa AI dapat membantu investor memilih produk pasar modal, termasuk saham, yang sesuai dengan perilaku (behaviour) masing-masing investor. Ia berharap ke depan pemanfaatan AI dapat mengurangi dampak negatif dari “pom-pom” informasi yang menyesatkan.

