PT Bank BCA Digital, anak usaha PT Bank Central Asia Tbk (BCA), merespons spekulasi mengenai peluang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui initial public offering (IPO). Perusahaan menyatakan belum memiliki rencana IPO dalam waktu dekat.
Kepala Divisi Corporate Planning BCA Digital, Yoga T Halim, mengatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat layanan perbankan digital Blu, sembari menunggu arahan lebih lanjut dari BCA. “Saat ini, fokus utama kami adalah mengembangkan layanan perbankan digital, Blu. Kami juga menunggu arahan lebih lanjut dari Bank BCA. Seperti yang disampaikan Pak Yahya, langkah ini masih terlalu dini,” ujar Yoga dalam talkshow mini studio pada acara BCA Expoversary di Hall 3 ICE BSD, Jumat (21/2).
Yoga menjelaskan, dengan usia operasional yang baru sekitar tiga setengah tahun, BCA Digital masih memiliki sejumlah aspek yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Karena itu, perusahaan memilih memantapkan fondasi bisnis sebelum mempertimbangkan aksi korporasi seperti IPO.
Menurutnya, apabila pada akhirnya BCA Digital memutuskan melakukan IPO, perusahaan ingin melaksanakannya dalam kondisi yang stabil agar kepercayaan pihak luar terhadap fundamental bisnis dapat semakin meningkat. “Jika nanti kami benar-benar siap, kami ingin melaksanakan IPO dalam kondisi yang stabil. Dengan begitu, kepercayaan pihak luar terhadap fundamental bisnis kami yang kuat akan semakin meningkat,” tambahnya.
Sepanjang 2024, BCA Digital mencatat lonjakan laba bersih sebesar 134,5% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 108,0 miliar, dibandingkan Rp 46,0 miliar pada 2023.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan total dana pihak ketiga (DPK) sebesar 30,7% YoY menjadi Rp 11,7 triliun, serta kenaikan penyaluran kredit sebesar 40,5% YoY menjadi Rp 6,5 triliun. Jumlah nasabah Blu juga meningkat, dengan lebih dari 2,4 juta pengguna pada 2024.

