Pasar modal Indonesia dinilai memiliki momentum untuk meningkatkan daya saing dan naik kelas di tingkat global. Upaya transformasi serta penguatan transparansi disebut menjadi faktor penting untuk mendorong perkembangan pasar modal nasional.
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan komunikasi mengenai berbagai kebijakan dan rencana pengembangan pasar modal perlu terus disampaikan kepada publik. Menurut dia, penyampaian informasi terkait langkah-langkah yang dilakukan bursa serta rencana ke depan penting agar investor, emiten, dan masyarakat memahami arah pengembangan pasar modal.
“Karena saat ini menjadi momentum penting untuk menjadikan pasar modal kita naik kelas, dan itu perlu selalu kita komunikasikan,” kata Jeffrey dalam diskusi Road to Investor Relations Forum (IRF) 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (10/3/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai komunikasi antara regulator, pelaku industri, dan investor menjadi faktor penting dalam membangun transparansi di pasar modal.
Sementara itu, Founder & CEO Kitacomm Henny Lestari menyampaikan bahwa investor relations memiliki peran strategis sebagai pintu gerbang perusahaan publik dalam membangun kepercayaan investor sekaligus menjaga nilai perusahaan di pasar. Ia menambahkan, seiring meningkatnya jumlah perusahaan tercatat di Indonesia, kebutuhan akan praktisi investor relations yang kompeten juga semakin besar.
Melalui Indonesia Investor Relations Forum yang kini memasuki tahun kedua, Henny berharap forum tersebut dapat menjadi wadah untuk mendorong penguatan standar dan pengembangan profesi investor relations di Indonesia.
Di sisi lain, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan capaian pembaruan data tipe investor di pasar modal. Hingga kini, proses pemutakhiran untuk kategori korporasi dan lainnya (others) telah mencapai 97 persen, yang disebut menunjukkan hampir seluruh data investor institusional non-individu telah tervalidasi dan diperbarui sesuai standar terbaru.
“Untuk yang granularity tipe investor, saat ini dengan bekerja sama dengan seluruh pelaku serta partisipan, sudah kami berhasil melakukan update 97 persen dari total untuk tipe investor yang korporate dan others,” kata Samsul dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
KSEI menyebut langkah ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan transparansi pasar modal yang dicanangkan regulator. Dengan data yang semakin akurat, profil kepemilikan saham di berbagai emiten diharapkan menjadi lebih jelas dan terstruktur, sekaligus memperkuat fondasi keterbukaan informasi di industri pasar modal.
Menurut KSEI, pembaruan dilakukan melalui kerja sama dengan pelaku industri dan partisipan pasar, mencakup verifikasi ulang klasifikasi investor, penyesuaian kategori, serta sinkronisasi data lintas lembaga untuk memastikan validitas informasi.
Selain kategori korporasi, pembaruan untuk total investor institusi secara keseluruhan juga telah mencapai 93 persen. KSEI menargetkan data yang telah diperbarui tersebut tersedia berdasarkan posisi akhir Maret 2026 dan dapat diakses publik pada awal April 2026.
“Jadi, insya Allah, kami juga sudah akan bisa menyediakan data tersebut berdasarkan komitmen kita adalah data per akhir Maret 2026 dan mudah-mudahan kita bisa sediakan di awal April 2026,” ujar Samsul.

