BERITA TERKINI
Dampak Serangan AS ke Iran: Ancaman Harga Minyak, Inflasi, dan Gejolak Pasar bagi Indonesia

Dampak Serangan AS ke Iran: Ancaman Harga Minyak, Inflasi, dan Gejolak Pasar bagi Indonesia

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian meningkat seiring konflik Iran dan Israel, yang diperburuk dengan keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan terhadap tiga situs nuklir utama Iran. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran—jalur penting pengiriman energi global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, eskalasi konflik tersebut dinilai dapat membawa konsekuensi ekonomi yang serius. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menilai konflik Iran, Israel, dan AS berpotensi besar mengganggu stabilitas ekonomi global, sehingga pemerintah dan pelaku pasar perlu meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi berbagai skenario terburuk yang dapat memengaruhi ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional.

Gejolak pasar dan pergeseran ke aset aman

Eddy menjelaskan, dampak langsung dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik adalah fluktuasi yang lebih tajam di pasar uang dan pasar modal. Menurutnya, situasi seperti ini dapat memicu aksi jual besar-besaran karena investor sulit membaca arah pasar, sehingga pasar bergerak menjauh dari titik keseimbangan.

Akibatnya, investor cenderung menahan rencana investasi jangka panjang. Dalam kondisi demikian, Eddy menyebut harga emas dan instrumen investasi jangka pendek berpotensi menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman.

Harga minyak berisiko melonjak

Selain gejolak pasar keuangan, Eddy menyoroti risiko gangguan pasokan energi karena konflik melibatkan kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia. Kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan dapat mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya menambah tekanan inflasi global dan memperburuk kondisi perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.

Ia menegaskan bahwa dampak yang paling nyata bagi Indonesia dan negara lain adalah kenaikan harga minyak. Menurut Eddy, skenario terburuk dapat terjadi apabila Iran melakukan retaliasi terhadap serangan udara AS pada Minggu (22/6/2025) dengan menutup Selat Hormuz. Jika hal itu terjadi, harga minyak dunia diperkirakan naik signifikan.

Eddy juga tidak menutup kemungkinan harga minyak mendekati atau bahkan melampaui 100 dollar AS per barel apabila perang berlangsung berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz terjadi secara permanen. Namun, ia menilai penutupan selat tersebut tidak mudah dilakukan karena berisiko bagi Iran sendiri dan dapat menghambat perekonomian negara itu.

Menurut Eddy, masih terdapat peluang perundingan dan gencatan senjata. Ia menambahkan, jika Selat Hormuz ditutup, negara-negara Teluk juga akan mengalami kerugian, sehingga langkah tersebut belum tentu diambil.

Risiko inflasi tinggi hingga tekanan pertumbuhan ekonomi

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, Eddy menilai dampaknya terhadap Indonesia dan negara lain akan sangat signifikan. Lonjakan harga minyak berisiko mendorong inflasi sekaligus menekan laju pertumbuhan ekonomi, sehingga perang berpotensi menimbulkan kerugian luas bagi perekonomian global.

Sejalan dengan itu, ekonom Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Wahyu Widodo menyatakan bahwa apabila pecah perang regional berskala penuh disertai penutupan Selat Hormuz, dampaknya akan besar dan berantai. Penutupan jalur vital pengiriman energi global tersebut, menurutnya, akan memicu lonjakan harga minyak secara ekstrem.

Wahyu menjelaskan, kenaikan harga energi dapat mendorong hiperinflasi di banyak negara karena biaya produksi, transportasi, dan logistik melonjak drastis. Pada saat yang sama, gangguan rantai pasok yang parah berpotensi menghambat distribusi barang dan memperdalam krisis ekonomi.

Ia menambahkan, perdagangan internasional juga dapat terganggu akibat blokade laut dan ancaman terhadap kapal-kapal pengangkut barang. Bila situasi terus memburuk, Wahyu menilai dunia tidak hanya menghadapi risiko resesi global, tetapi juga potensi depresi ekonomi, disertai stagnasi berkepanjangan dan gejolak besar di pasar keuangan akibat meningkatnya ketidakpastian dan volatilitas.