Narasi akuisisi saham disebut semakin masif dalam dua hingga tiga bulan terakhir, terutama pada emiten yang berada di area IPO periode 2021–2024, termasuk saham-saham di papan notasi khusus dan papan akselerasi. Dalam perkembangannya, muncul dua pola besar narasi akuisisi: narasi yang sudah disertai aksi korporasi resmi, dan narasi yang masih sebatas rumor tanpa konfirmasi manajemen melalui keterbukaan informasi.
Pola pertama adalah narasi akuisisi yang belum memiliki kepastian resmi, namun beredar dengan detail yang dinilai cukup jelas. Dalam skema ini, rumor muncul disertai informasi yang tampak meyakinkan, tetapi tidak ada pernyataan resmi dari manajemen maupun keterbukaan informasi. Ketika bursa meminta klarifikasi, jawaban manajemen cenderung netral dan tidak secara tegas membantah.
Contoh yang disebut adalah saham DADA. Saham ini disebut bergerak dari harga di bawah Rp10 per saham hingga menembus Rp100 per saham. Rumor yang beredar sejak Agustus 2025 menyebut DADA dilirik dua investor Jepang, yakni Kajima Corporation dan Mitsubishi Estate. Narasi yang berulang dalam berbagai publikasi juga membangun persepsi bahwa DADA adalah “NEXT”-nya PANI.
Narasi kemudian berkembang. Disebutkan bahwa Vanguard memiliki saham Mitsubishi Estate, lalu muncul narasi bahwa Vanguard juga melirik DADA karena keterkaitan tersebut. Pada saat yang sama, harga saham PANI disebut sedang turun karena aksi right issue yang diperkirakan berada di kisaran Rp13.000-an kala itu. Seiring perubahan sentimen, narasi DADA juga bergeser menjadi “NEXT”-nya DCII.
Manajemen DADA sempat merespons pertanyaan BEI terkait rumor akuisisi. Jawaban yang disampaikan bersifat netral: perusahaan terbuka terhadap peluang kerja sama strategis atau investasi, serta tengah berkomunikasi dengan calon investor asing. Namun, sejak rilis jawaban tersebut hingga 22 Agustus 2025, disebut belum ada perkembangan terbaru.
Dalam perkembangan berikutnya, DADA membagikan dividen yang disebut menjadi kunci agar perseroan bisa lepas dari papan notasi khusus. Setelah itu, harga saham DADA mengalami auto rejection bawah (ARB) dua hari berturut-turut dengan tingkat offer hingga 10 juta pada 14 Oktober 2025.
Kasus lain adalah saham NTBK. Emiten ini memiliki bisnis industri manufaktur kendaraan untuk sektor hulu dan hilir migas, dan dikabarkan dilirik dua perusahaan besar asal China yang bergerak di pabrik kendaraan listrik truk. Pola narasinya dinilai mirip dengan DADA, termasuk narasi bahwa calon investor bersikap selektif dan hanya mau berinvestasi pada perusahaan dengan fundamental kuat.
Respons manajemen NTBK juga disebut serupa, yakni menyatakan selalu terbuka terhadap potensi kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Terkait rumor rencana akuisisi, manajemen menyebut masih membahasnya secara hati-hati. Hingga saat ini, disebut belum ada perkembangan terkait negosiasi pengambilalihan.
Menurut ulasan tersebut, saham dengan karakter rumor akuisisi yang belum jelas masih berpotensi memberikan keuntungan, tetapi risikonya tinggi. Kenaikan harga sering kali tidak diiringi fundamental bisnis yang kuat. Ketika periode pendorong harga berakhir dan investor belum keluar, penjualan saham bisa sulit karena minimnya pihak yang bersedia membeli.
Dalam konteks spekulasi, disebutkan salah satu syaratnya adalah masuk saat harga belum naik terlalu tinggi. Jika harga sudah terlanjur tinggi, disarankan memilih saham dengan pergerakan lebih normal karena tingkat risiko dan imbal hasil dinilai tidak sebanding.
Pola kedua adalah narasi akuisisi yang sudah disertai pengumuman resmi melalui keterbukaan informasi. Tipe ini dinilai memberi kepastian lebih tinggi bahwa ada transaksi yang sedang dijalani, meski tetap tidak menjamin akuisisi pasti terjadi. Emiten yang disebut sudah berada pada tahap ini antara lain OLIV, GPSO, AMMS, SMKM, dan MEJA, serta emiten lain yang lebih dulu memulai proses akuisisi.
Secara umum, proses akuisisi digambarkan melalui empat tahap: negosiasi, due diligence, hingga penandatanganan kesepakatan jual-beli, lalu pembayaran sesuai ketentuan pada tahap akhir. Namun, fase negosiasi hingga due diligence tetap berpotensi batal, seperti yang disebut pernah terjadi pada IOTF. Bahkan setelah mencapai kesepakatan jual-beli, transaksi masih bisa batal jika salah satu pihak tidak memenuhi syarat, sebagaimana disebut pernah terjadi pada WOMF dan hampir terjadi pada NINE.
Karena itu, investor diminta mencermati pihak-pihak yang bertransaksi, potensi perubahan bisnis, dan faktor lain yang relevan. Selain tahapan transaksi, tipe investor pengakuisisi juga dinilai penting dipahami, mulai dari investor luar negeri, investor dalam negeri, hingga perusahaan investasi atau konsultan yang kerap mengurus aksi korporasi.
Untuk investor luar negeri maupun dalam negeri, fokus analisis diarahkan pada bisnis apa yang akan dibawa ke emiten serta seberapa besar skala modal calon pengendali baru. Sementara untuk pihak perusahaan investasi atau konsultan, arah bisnis pasca-akuisisi dinilai lebih sulit ditebak. Contoh yang diangkat adalah PIPA yang diakuisisi Morris Capital, pihak yang sama dengan Triple B yang mengakuisisi MEJA. Disebut ada kabar suntikan Rp3 triliun ke PIPA, namun belum jelas arah bisnis yang akan dibangun.
Situasi ketidakpastian tersebut dinilai dapat memicu volatilitas harga tinggi. Untuk strategi masuk pada saham dengan transaksi akuisisi yang lebih jelas, terdapat dua pendekatan: spekulasi masuk sejak awal hingga transaksi dinyatakan deal (lalu mengambil untung), atau masuk setelah akuisisi selesai dengan ekspektasi adanya injeksi aset yang berpotensi mendorong kenaikan harga saham.
Sejumlah aksi korporasi terbaru yang disebut antara lain GPSO yang diakuisisi Grup Tjokro dengan kemungkinan perubahan bisnis menjadi komponen otomotif, dengan tahapan transaksi yang baru mencapai penyelesaian dokumen perjanjian jual-beli saham. AMMS juga disebut masih dalam proses negosiasi untuk diakuisisi Radiant Ruby Company, meski detail bisnis perusahaan tersebut belum diketahui. Selain itu, OLIV disebut dalam proses akuisisi dengan perusahaan kendaraan listrik, SMKM dalam proses akuisisi terkait produk udang dan perikanan, MEJA diakuisisi Triple B yang disebut terkait dengan Noprian Fadli dan Morris Capital, serta KOKA yang diakuisisi perusahaan kontraktor asal China.
Di akhir ulasan, tren akuisisi saham-saham kecil dinilai mulai jenuh dari sisi daya tarik volatilitas harga. Disebut ada potensi aksi korporasi serupa akan berkurang drastis pada 2026.

