BERITA TERKINI
Easycash, AFTECH, dan IARFC Luncurkan MOJANG untuk Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda

Easycash, AFTECH, dan IARFC Luncurkan MOJANG untuk Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda

Jakarta – PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan International Association of Registered Financial Consultant (IARFC) Indonesia meluncurkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG) sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Program ini menyasar terutama gen Z dan milenial yang semakin aktif menggunakan layanan keuangan digital.

President & Chairman IARFC Indonesia, Aidil Akbar Madjid, menilai perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia berlangsung sangat cepat, termasuk akses pinjaman digital yang kini dapat dilakukan melalui ponsel. Namun, menurutnya, kemudahan itu belum sepenuhnya diimbangi pemahaman masyarakat terkait cara kerja produk keuangan dan risikonya.

Ia menyebut masih banyak orang menggunakan produk keuangan tanpa memahami mekanisme maupun konsekuensinya. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu salah kelola keuangan, kesalahpahaman terhadap pinjaman digital, hingga mendorong maraknya pinjaman ilegal. Aidil juga mengingatkan risiko kesalahpahaman akan semakin berbahaya bila terjadi pada generasi muda, mengingat gen Z disebut mencapai 28 persen dari populasi Indonesia. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 10 Februari 2026.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di angka 65,43 persen. Data ini menggambarkan adanya kesenjangan, karena sebagian masyarakat telah menggunakan produk keuangan sebelum memahami fungsinya.

Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, mengatakan kesenjangan literasi dan inklusi menjadi tantangan serius, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi tetapi masih berada pada tahap awal pengelolaan keuangan pribadi. Menurutnya, literasi sejak dini penting agar masyarakat memahami hak, kewajiban, serta risiko dalam menggunakan layanan keuangan digital.

Nucky menekankan edukasi keuangan merupakan bagian dari perlindungan konsumen sekaligus mendukung keberlanjutan industri fintech. Ia juga menilai peningkatan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja dan membutuhkan sinergi regulator, asosiasi, industri, institusi pendidikan, serta masyarakat agar edukasi menjangkau lebih luas dan berdampak nyata.

Senada, Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyebut generasi muda menjadi pengguna dominan layanan digital. Meski tingkat adopsi teknologinya tinggi, kelompok ini dinilai rentan terhadap perilaku konsumtif, kesalahpahaman kredit, dan risiko pinjaman digital. Firlie menambahkan tantangan literasi keuangan akan semakin kompleks seiring berkembangnya produk keuangan digital, model bisnis berbasis teknologi, serta ekosistem ekonomi digital.

Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai edukasi keuangan penting untuk membangun kesejahteraan finansial masyarakat. Hal itu disampaikan Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliani.

OJK mencatat indeks literasi pelajar usia 15–17 tahun baru sekitar 51,48 persen, lebih rendah dibanding tingkat nasional. Sepanjang 2025, OJK menyelenggarakan 11.931 program edukasi keuangan yang diikuti sekitar 1,6 juta pelajar.

Naomi berharap kolaborasi antara industri, asosiasi, dan regulator, termasuk melalui peluncuran MOJANG, dapat memperluas jangkauan edukasi keuangan di Indonesia. Ia menilai peluncuran modul tersebut dapat menjadi langkah awal untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam edukasi keuangan.