BERITA TERKINI
El Niño Super 2023–2024: Pemanasan Pasifik yang Mengubah Cuaca Global dan Memukul Indonesia

El Niño Super 2023–2024: Pemanasan Pasifik yang Mengubah Cuaca Global dan Memukul Indonesia

Pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis pada 2023 memicu perubahan besar pada pola angin, awan, dan hujan di berbagai belahan dunia. Fenomena ini dikenal sebagai El Niño, fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yang terjadi ketika perairan bagian tengah dan timur Pasifik menghangat dan kemudian mengganggu sirkulasi atmosfer global.

Pada periode 2023–2024, El Niño berkembang sejak Mei 2023 dan mencapai puncaknya pada Oktober hingga Desember 2023. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 dilaporkan melampaui +2,0°C, memenuhi kriteria yang kerap disebut sebagai “Super El Niño”. Pemanasan juga tercatat menyebar luas dari Pasifik tengah hingga timur, memperkuat dampaknya terhadap cuaca regional dan global.

Secara global, El Niño 2023–2024 memicu anomali cuaca yang berbeda-beda antarwilayah. Di Amerika Selatan, terutama pesisir barat seperti Peru dan Ekuador, hujan lebat meningkatkan risiko banjir. Afrika Timur mengalami peningkatan curah hujan yang juga berpotensi memicu banjir. Sementara itu, Asia Tenggara dan Australia cenderung menghadapi kekeringan lebih parah dan suhu yang lebih ekstrem. Di Amerika Utara, perubahan pola badai serta musim dingin yang lebih hangat terjadi di sebagian wilayah.

Indonesia termasuk negara yang sensitif terhadap perubahan ENSO. Selama El Niño Super 2023–2024, dampaknya terlihat pada penurunan curah hujan yang signifikan, peningkatan kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada ketahanan pangan. Dalam periode kemarau 2023, penurunan curah hujan di sejumlah wilayah dilaporkan berada pada kisaran 50–90%. Kondisi ini berimbas pada menurunnya ketersediaan air di waduk dan sumber air, termasuk di wilayah seperti Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi.

Kekeringan juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Hotspot dilaporkan meningkat di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Asap dari kebakaran memperburuk kualitas udara dan dapat mencapai tingkat yang berbahaya di beberapa daerah.

Dampak lain yang menonjol adalah terganggunya ketahanan pangan. Produksi padi dan jagung dilaporkan menurun akibat gagal panen di sejumlah wilayah. Beberapa daerah menetapkan status siaga darurat kekeringan sebagai respons atas memburuknya kondisi.

Di Sulawesi Tengah, dampak El Niño dilaporkan cukup serius, ditandai musim kering berkepanjangan, peningkatan hotspot, serta gangguan terhadap aktivitas pertanian dan ketersediaan sumber daya air. Kondisi ini menempatkan wilayah tersebut dalam tekanan ganda: kebutuhan air meningkat saat pasokan menurun, sementara risiko kebakaran bertambah seiring mengeringnya lahan.

Menurut pemantauan, El Niño mulai melemah sejak Januari 2024 dan diperkirakan mencapai kondisi netral pada pertengahan 2024. Selanjutnya terdapat indikasi transisi menuju La Niña lemah menjelang akhir 2024, yang umumnya berkaitan dengan peningkatan curah hujan.

Sejumlah langkah penanganan dilakukan di tingkat pusat dan daerah. BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk sektor pertanian dan energi sejak Juni 2023. Kementerian Pertanian menyiapkan dukungan seperti pompa air, penggunaan varietas tanaman tahan kering, serta koordinasi untuk mengantisipasi gagal panen. Di tingkat daerah, termasuk di Sulawesi Tengah, pemerintah mengaktifkan posko penanggulangan kekeringan dan kebakaran sebagai bagian dari respons menghadapi dampak yang berulang.

El Niño Super 2023–2024 menunjukkan bagaimana pemanasan laut di Pasifik dapat menjalar menjadi krisis cuaca di darat—mulai dari kekeringan, kebakaran, hingga gangguan produksi pangan. Dengan pola ENSO yang terus berulang, kesiapsiagaan berbasis peringatan dini dan respons lintas sektor menjadi kunci untuk menekan risiko pada musim-musim berikutnya.