BERITA TERKINI
Harga Minyak Menguat Setelah AS Capai Kesepakatan Dagang dengan Uni Eropa

Harga Minyak Menguat Setelah AS Capai Kesepakatan Dagang dengan Uni Eropa

Harga minyak mentah dunia menguat pada awal pekan setelah Amerika Serikat mencapai kesepakatan dagang dengan Uni Eropa dan muncul peluang perpanjangan jeda tarif dengan China. Perkembangan ini dinilai meredakan ketegangan dagang yang sebelumnya memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan potensi penurunan permintaan energi.

Kontrak berjangka minyak Brent naik 20 sen menjadi USD68,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 15 sen ke level USD65,31 per barel.

Analis pasar IG Markets Tony Sycamore menilai kesepakatan AS-Uni Eropa serta kemungkinan perpanjangan jeda tarif dengan China menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dan harga minyak. Ia menyebut, meredanya risiko perang dagang berkepanjangan mendorong respons positif dari pasar.

Dalam perjanjian terbaru, AS dan Uni Eropa sepakat menetapkan tarif impor sebesar 15 persen atas sebagian besar produk dari Uni Eropa, atau sekitar setengah dari tarif yang sebelumnya diancamkan. Kesepakatan tersebut dipandang membantu mencegah konflik dagang yang lebih besar antara dua mitra strategis yang mewakili hampir sepertiga perdagangan global.

Sementara itu, negosiator senior AS dan China dijadwalkan bertemu di Stockholm pada Senin menjelang tenggat 12 Agustus untuk membahas perpanjangan masa damai tarif yang sedang berlangsung. Jika negosiasi berhasil, ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu berpotensi terus mereda.

Sebelumnya, harga minyak ditutup melemah pada Jumat pekan lalu dan berada di level terendah dalam tiga pekan. Pelemahan dipicu kekhawatiran kelebihan pasokan global serta potensi peningkatan produksi dari Venezuela. Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, disebut tengah mempersiapkan kembali pengoperasian proyek-proyek minyak bersama setelah Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan pemberian izin ekspor melalui skema barter, seperti yang pernah diberlakukan pada era Biden.

Meski kembali menguat, kenaikan harga minyak masih dibatasi oleh potensi pelonggaran pembatasan produksi oleh OPEC+. Kelompok negara pengekspor minyak dan sekutunya dijadwalkan menggelar pertemuan panel pemantauan pasar pada Senin siang waktu GMT.

Empat delegasi OPEC+ menyatakan kelompok itu kemungkinan tidak akan mengubah rencana peningkatan produksi sebesar 548 ribu barel per hari pada Agustus. Namun, satu sumber lain menyebut keputusan akhir masih terlalu dini untuk dipastikan.

Bank ING memperkirakan OPEC+ akan menyelesaikan pengembalian penuh terhadap pemotongan pasokan sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga akhir September. Dengan begitu, diperkirakan ada tambahan pasokan setidaknya 280 ribu barel per hari pada bulan tersebut, meski peluang kenaikan yang lebih agresif masih terbuka. Para produsen disebut ingin merebut kembali pangsa pasar saat permintaan meningkat di musim panas.

Di sisi permintaan, analis JP Morgan mencatat permintaan minyak global naik 600 ribu barel per hari secara tahunan pada Juli, disertai peningkatan stok global sebesar 1,6 juta barel per hari.

Dari Timur Tengah, kelompok Houthi di Yaman menyatakan akan menargetkan kapal-kapal milik perusahaan yang menjalin hubungan dagang dengan pelabuhan Israel, tanpa memandang asal negaranya. Pernyataan ini disebut sebagai fase keempat operasi militer mereka terkait konflik Gaza, dan menambah ketegangan geopolitik yang berpotensi berdampak pada rantai pasok minyak dunia.