Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Kamis melemah, mengikuti penurunan bursa di kawasan Asia di tengah volatilitas harga minyak mentah global.
IHSG ditutup turun 27,28 poin atau 0,37 persen ke level 7.362,12. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan terkoreksi 1,06 poin atau 0,14 persen ke posisi 751,19.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut sentimen negatif antara lain dipicu masih berlangsungnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mendorong harga minyak mentah kembali menguat.
Dari sisi global, kenaikan harga minyak mentah dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi dan melebarannya defisit APBN, serta potensi defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas).
Pada perdagangan hari ini pukul 16.45 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 5,48 persen ke level 92,03 dolar AS per barel. Sementara minyak Brent meningkat 5,69 persen ke level 97,21 dolar AS per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah muncul laporan serangan terhadap beberapa kapal tanker di sekitar Timur Tengah. Laporan tersebut beredar tidak lama setelah International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah dalam skala terbesar dalam sejarahnya.
Tidak adanya tanda-tanda de-eskalasi di Teluk Persia membuat harga minyak tetap diperdagangkan pada level tinggi. Kondisi ini terjadi karena belum terlihat tanda berakhirnya gangguan aliran minyak di Selat Hormuz.
Keputusan IEA juga dinilai menjadi sinyal tingginya risiko gangguan pasokan minyak, sekaligus menunjukkan bahwa lembaga tersebut tidak meyakini konflik akan segera berakhir.

