Di tengah dengungan mesin pencelupan dan alat tenun, David Leonardi berjalan menyusuri pabrik tekstil keluarganya di selatan Bandung dengan perasaan campur aduk: bangga sekaligus cemas. Usaha yang dirintis ayahnya hampir 50 tahun lalu di kawasan yang dikenal sebagai jantung industri tekstil Indonesia itu kini menghadapi tekanan yang ia sebut paling berat sepanjang sejarah bisnisnya.
Setelah terpukul pandemi COVID-19, industri tekstil Indonesia makin terdesak oleh dominasi produk-produk China yang dalam beberapa tahun terakhir menggerus pasar produsen Asia Tenggara. Di saat yang sama, kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang diterapkan Presiden Donald Trump menambah beban bagi perusahaan berbasis ekspor.
David menyatakan tarif tersebut berpotensi memangkas ekspor perusahaannya ke pasar AS. Ia memperkirakan, bila kebijakan itu berlanjut, ekspor ke Amerika Serikat dapat turun 20–30 persen dalam satu hingga dua tahun ke depan. Kekhawatiran itu juga terkait dampaknya terhadap tenaga kerja, setelah setengah dari pekerjanya sempat dirumahkan dan lebih dari seribu buruh pabrik diberhentikan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut David, para importir di Amerika Serikat mulai meminta diskon agar harga produk tetap kompetitif. Ia menilai situasi ini dapat menjadi masalah besar bagi Indonesia karena sektor tekstil termasuk salah satu dari sedikit sektor yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah.
Tekanan tidak hanya datang dari potensi penurunan ekspor ke AS. Dampak lanjutan perang dagang AS-China juga memicu perubahan arus perdagangan. Pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, sebagian eksportir China mengalihkan barang melalui Asia Tenggara untuk menghindari tarif, praktik yang dikenal sebagai transshipment. Kini praktik tersebut menjadi perhatian otoritas AS dan telah masuk dalam perjanjian perdagangan bilateral yang dibuat Amerika Serikat dengan mitra dagangnya tahun ini.
Dengan pasar AS yang makin tidak menentu dan tarif tinggi terkait transshipment, eksportir China mengubah strategi. Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi titik transit, melainkan tujuan penjualan. United Nations Development Program (UNDP) mencatat setelah pengumuman tarif pada April, ekspor China ke negara-negara ASEAN naik sekitar 20 persen, dengan pertumbuhan ekspor ke kawasan ini tetap tinggi.
Bagi produsen di Indonesia, lonjakan impor menjadi tantangan besar. David menyebut produk impor dari China bisa tiga hingga empat kali lebih murah dibandingkan produk lokal. Ia mempertanyakan bagaimana industri domestik bisa bertahan jika konsumen memilih harga yang lebih rendah.
Di Pasar Tanah Abang, Jakarta, isu penjualan produk China disebut sensitif. Namun seorang pedagang bernama Farel mengakui impor dari China menekan produk lokal karena kualitasnya dinilai baik dan harganya kompetitif.
Pemerintah Indonesia merespons sebagian tekanan tersebut. Pada Rabu, pemerintah memberlakukan tarif selama tiga tahun atas impor produk benang kapas. Kebijakan itu muncul setelah lobi asosiasi industri, termasuk surat kepada Menteri Keuangan yang memperingatkan adanya “impor ilegal dan dumping produk China”.
Wakil Menteri di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Pambudi, mengatakan pemerintah memantau “kelebihan pasokan” barang dari China sebagai dampak konflik dagang AS-China. Ia menyatakan Indonesia memahami pertimbangan AS terkait defisit perdagangan, tetapi menilai perlu ada cara untuk menjaga keseimbangan. Menurutnya, tidak ada negara yang mampu memproduksi semua kebutuhan sendiri, sehingga pasar perlu dijaga tetap terbuka agar dampak global tidak memburuk.
Di tingkat regional, para pemimpin ASEAN dijadwalkan bertemu Presiden Trump dalam KTT ASEAN ke-47 di Malaysia untuk membahas tarif dan perdagangan. Namun, dalam agenda yang sama, Trump juga disebut akan menyaksikan kesepakatan gencatan senjata Thailand-Kamboja yang dikenal sebagai “Kuala Lumpur Accord”. Kesepakatan itu merupakan kelanjutan dari gencatan senjata konflik lima hari pada Juli dan mencakup kewajiban kedua negara menghapus ranjau serta artileri berat dari perbatasan.
Media Politico melaporkan kehadiran Trump di ASEAN bergantung pada berlangsungnya upacara kesepakatan damai tersebut. Situasi ini berpotensi mengalihkan fokus para pemimpin Asia Tenggara yang ingin memperkuat hubungan bilateral dengan AS untuk menurunkan tarif atau memperoleh pengecualian pada produk tertentu.
Dalam pernyataan bersama pada Mei, para pemimpin ASEAN menyoroti tarif Trump yang mereka sebut sebagai sumber “ketidakpastian perdagangan global”. Mereka menilai tindakan perdagangan sepihak dan aksi balasan bersifat kontraproduktif serta berisiko memperparah fragmentasi ekonomi global, termasuk ketika dampaknya tidak langsung mengenai ASEAN.
Di tengah ketidakpastian itu, pelaku usaha seperti David berharap ada ruang negosiasi agar beban tarif dapat berkurang. Ia mempertanyakan konsekuensi jika industri—bukan hanya tekstil, tetapi juga sektor lain—perlahan runtuh. Namun, ancaman ganda berupa tarif AS dan membanjirnya ekspor China ke Asia Tenggara dinilai bisa membuat tekanan terhadap produsen kawasan sulit kembali seperti semula.

