BERITA TERKINI
Kesepakatan Dagang AS–China Redakan Ketegangan, Harga Minyak dan Kedelai Naik, Emas Jatuh

Kesepakatan Dagang AS–China Redakan Ketegangan, Harga Minyak dan Kedelai Naik, Emas Jatuh

Sejumlah komoditas bergerak tajam setelah Amerika Serikat (AS) dan China mengumumkan kesepakatan untuk menurunkan tarif secara sementara. Langkah ini dinilai meredakan ketegangan perang dagang yang selama ini membebani pasar global.

AS dan China sepakat untuk mengurangi secara drastis tarif atas barang masing-masing selama periode awal 90 hari. Kesepakatan itu diumumkan melalui pernyataan bersama usai rangkaian negosiasi dagang di Jenewa, Swiss, yang melibatkan pejabat dari dua ekonomi terbesar dunia. Kedua pihak menyebut telah terjadi “kemajuan substansial” dalam pembicaraan dan menekankan pentingnya hubungan ekonomi dan perdagangan yang berkelanjutan, jangka panjang, serta saling menguntungkan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pembicaraan dengan China berlangsung sangat produktif. Dalam kesepakatan sementara tersebut, tarif AS atas barang-barang China dipangkas menjadi 30%, sementara tarif China atas impor dari AS diturunkan menjadi 10%. Bessent juga menyebut harapannya untuk kembali bertemu perwakilan Beijing dalam beberapa pekan mendatang guna mulai merumuskan kesepakatan yang lebih besar.

Respons pasar dinilai positif. Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, menyebut pasar menguat karena investor terkejut dengan cepatnya kemajuan kesepakatan tarif perdagangan China.

Di pasar komoditas, harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan pada Senin (12/5/2025). Setelah kesepakatan antara dua konsumen minyak terbesar dunia, kontrak berjangka minyak mentah Brent dan WTI AS ditutup naik sekitar 1,5%, melanjutkan kenaikan pekan sebelumnya sekitar 4%. Keduanya sempat menyentuh level tertinggi sejak 28 April. Ole Hansen, analis Saxo Bank, menilai minyak mentah—yang sebelumnya tertekan oleh peningkatan produksi OPEC+—menjadi salah satu pemenang utama karena kabar tersebut membantu menstabilkan prospek permintaan.

Komoditas pertanian juga merespons. Harga kedelai mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan setelah kedua negara sepakat menunda pemberlakuan tarif dagang selama 90 hari. Ewa Manthey, analis komoditas ING, menilai tingkat tarif baru ini mengembalikan kondisi seperti sebelum “Hari Pembebasan” dan mencerminkan de-eskalasi yang lebih baik dari perkiraan.

Selama konflik dagang, kedelai menjadi komoditas pertanian AS yang paling terdampak karena China—importir kedelai terbesar dunia—mengalihkan pembelian dari AS ke Brasil, yang merupakan eksportir kedelai terbesar kedua dunia.

Sementara itu, pergeseran investor ke aset berisiko menekan harga emas. Harga emas spot dilaporkan ambruk 2,7% ke US$3.233,78.

Harga logam industri turut menguat seiring meredanya kekhawatiran terhadap pertumbuhan dan permintaan, meski pelaku pasar tetap berhati-hati. Di London Metal Exchange (LME), harga tembaga acuan naik 0,6% menjadi US$9.502 per metrik ton, sedangkan aluminium naik 2,3% menjadi US$2.473. Namun, Callum Macpherson, kepala komoditas di Investec, mengingatkan bahwa penurunan tarif masih bersifat sementara dan arah kebijakan setelah periode tersebut berakhir belum jelas, termasuk kemungkinan tercapainya kesepakatan permanen antara AS dan China.