Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ketua bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell memicu gejolak di pasar keuangan. Ancaman pemecatan yang sempat dilontarkan Trump menekan nilai tukar dolar AS, di tengah kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed.
Mengutip data Investing.com, indeks dolar AS (DXY) masih tertahan di bawah level 100. Pada Selasa (29/4) pukul 06.17 WIB, DXY berada di level 99,06. Sejak isu perselisihan mencuat, indeks dolar mulai melemah. Pada 16 April DXY turun ke level 99,64, lalu ketegangan yang meningkat membuat greenback sempat menyentuh titik terendah pada 21 April di level 98,40.
Menjelang akhir pekan, situasi sedikit mereda setelah Trump menyangkal pernah berniat memecat Powell. Meski demikian, Trump juga menyebut kemungkinan akan menghubungi Powell untuk membahas kekhawatirannya terkait kebijakan suku bunga. Donald Kohn, peneliti senior Brookings Institution sekaligus mantan Wakil Ketua Bank Sentral AS, menilai perubahan sikap Trump belum dapat dibaca sebagai berakhirnya konflik. Ia menilai sikap tersebut tampaknya dimaksudkan untuk menenangkan pasar keuangan.
Ketegangan bermula saat Trump melalui platform Truth Social menyebut Powell sebagai “pecundang besar” dan mendesaknya segera menurunkan suku bunga, dengan alasan ekonomi AS berisiko melambat bila suku bunga tidak dipangkas. Perselisihan ini berakar pada perbedaan pandangan mengenai waktu yang tepat bagi The Fed menurunkan suku bunga.
Situasi kembali memanas ketika Trump, dalam pernyataan kepada wartawan saat kunjungan bersama Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, menyatakan ketidakpuasannya terhadap Powell. Trump berpendapat penurunan suku bunga dapat merangsang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pinjaman dan investasi. Ia juga dikenal menyukai kebijakan suku bunga rendah.
Di sisi lain, Powell menegaskan fokus The Fed pada target inflasi 2%. Pada 2022 dan 2023, The Fed menaikkan suku bunga secara tajam untuk menekan peminjaman dan pengeluaran demi mengendalikan inflasi. Disebutkan inflasi sempat mencapai 9,1% dan per Maret 2023 turun menjadi 2,3%.
Trump juga membandingkan kebijakan The Fed dengan European Central Bank (ECB) yang memangkas suku bunga acuan pada 17 April. Sejumlah laporan menyebut Trump mempelajari kemungkinan memecat Powell dan mencari kandidat pengganti. Wall Street Journal melaporkan Trump mengadakan pembicaraan tertutup dengan Kevin Warsh, mantan gubernur The Fed, sebagai calon pengganti. Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett juga menyatakan presiden dan timnya mempertimbangkan apakah akan memecat Powell.
Namun, upaya memecat Ketua The Fed dinilai tidak mudah. Mengacu pada keputusan Mahkamah Agung tahun 1935, anggota dewan lembaga federal independen seperti Federal Reserve hanya dapat diberhentikan sebelum masa jabatan berakhir karena alasan tertentu. Trump juga disebut tengah menghadapi persoalan hukum terkait pemecatan anggota Dewan Hubungan Perburuhan Nasional dan anggota Dewan Perlindungan Sistem, yang sempat dihentikan sementara oleh Mahkamah Agung pada awal bulan ini.
Dari pihak Powell, sejak Trump terpilih pada November lalu ia menegaskan tidak akan mengundurkan diri bila diminta presiden. Powell menyatakan berdasarkan hukum, presiden tidak boleh memecat atau menurunkan jabatan Ketua The Fed. Masa jabatan Powell sebagai ketua disebut berakhir pada 15 Mei 2026.
Sejumlah pihak turut membela Powell. Senator Republik John Kennedy dari Louisiana menyatakan presiden mana pun tidak memiliki hak mencopot ketua Federal Reserve dan menekankan pentingnya independensi bank sentral. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee juga memperingatkan bahwa melemahkan independensi bank sentral dapat memicu inflasi lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi lebih lambat, dan memburuknya pasar.
Di Indonesia, analis Doo Financial Lukman Leong menilai bila ketegangan Trump dan Powell berlanjut, kondisi ekonomi AS bisa terdampak negatif dan dolar AS berpotensi semakin melemah karena pasar dibayangi kekhawatiran. Namun, ia menekankan ketidakpastian yang lebih besar saat ini juga datang dari kebijakan tarif impor Trump.
Lukman menilai tekanan pada indeks dolar tidak otomatis menjadi sentimen positif bagi rupiah. Ketidakpastian terkait perang dagang disebut membuat investor cenderung berhati-hati terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ia juga menilai peran dolar AS sebagai aset safe haven mulai berkurang, dengan investor disebut lebih banyak memburu emas atau yen Jepang.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai dorongan Trump untuk menurunkan suku bunga acuan dapat berdampak buruk bagi ekonomi AS. Menurutnya, suku bunga rendah diharapkan memudahkan perusahaan memperoleh pembiayaan murah saat kembali berinvestasi di AS. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan suku bunga dapat membuat inflasi tidak terkendali dan pada periode tertentu berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Jika tekanan tersebut berujung pada perlambatan ekonomi AS, Huda menilai pertumbuhan ekonomi global dapat ikut melambat. Perlambatan permintaan barang secara global pada akhirnya berpotensi dirasakan negara lain, termasuk Indonesia.

