Dua nama investor disebut kerap muncul di balik pergerakan sejumlah saham yang ramai diperbincangkan, seperti BRMS, PIPA, MEJA, hingga NINE. Keduanya adalah Sugiman Halim dan Noprian Fadli. Berikut rangkuman jejak kepemilikan dan keterkaitan mereka dengan beberapa emiten, berdasarkan data yang beredar.
Sugiman Halim: dominan di BRMS, merambah BOAT dan DOSS
Sugiman Halim disebut sebagai investor individu berskala besar. Informasi rekam jejak yang ditemukan antara lain pernah menjabat Komisaris di CENT pada periode 2017–2021. Ia juga dikaitkan dengan PT MAC Sarana Djaya, penyedia Distributed Antenna System (DAS) untuk pasar gedung-gedung tinggi di Indonesia, yang mengindikasikan kedekatan dengan sektor telekomunikasi.
Nama Sugiman mencuat salah satunya melalui akumulasi saham BRMS. Pada 11 Oktober 2021, ia membeli 6,2% saham BRMS atau sekitar 5,85 miliar lembar. Dengan mengacu pada harga BRMS saat itu sekitar Rp96 per saham, nilai modal awal diperkirakan Rp561 miliar.
Sepanjang Oktober–November 2021, Sugiman kembali menambah kepemilikan hingga sekitar 8,38 miliar lembar. Dengan asumsi harga rata-rata sekitar Rp100 per saham (saat itu BRMS bergerak di kisaran Rp90–Rp100), total investasi diperkirakan menembus Rp830 miliar.
Akumulasi berlanjut disertai perpindahan saham antar sekuritas (antara lain MG ke CC, MG ke OD). Hingga 28 Agustus 2025, total kepemilikan Sugiman di BRMS disebut mencapai 10,55 miliar lembar. Jika mengacu pada harga BRMS per 23 September 2025, nilai asetnya di BRMS diperkirakan sekitar Rp6,8 triliun.
Pada akhir 2024, Sugiman juga mulai masuk ke emiten lain, yakni BOAT dan DOSS.
Untuk BOAT, berdasarkan data pemegang saham di atas 5%, Sugiman sempat tercatat memiliki 4,41% setara 154,51 juta lembar saat IPO. Disebutkan namanya tidak ada dalam daftar pemegang saham pra-IPO, sehingga dinilai masuk melalui IPO. Dengan harga IPO, nilai masuknya diperkirakan Rp15,45 miliar.
Selanjutnya, sepanjang November ia menambah kepemilikan pada kisaran harga Rp135–Rp140 per saham hingga mencapai 10,56% atau sekitar 369 juta lembar. Dengan harga per 23 September 2025, nilai asetnya di BOAT diperkirakan sekitar Rp48 miliar.
Adapun untuk DOSS, Sugiman membeli di pasar reguler (bukan saat IPO). Transaksi terjadi pada 15 November 2024, ketika ia membeli 169 juta lembar atau setara 9,85%. Mengacu pada harga saham saat itu, nilai modal diperkirakan sekitar Rp26 miliar.
Sugiman disebut mulai kembali mengakumulasi DOSS pada April 2025 hingga kepemilikannya menjadi sekitar 9,97% atau setara 172 juta lembar. Dengan harga per 23 September 2025, nilai asetnya di DOSS diperkirakan sekitar Rp30 miliar.
Gambaran singkat BOAT dan DOSS
BOAT bergerak di bisnis sewa kapal dengan klien yang disebut berasal dari beberapa pihak, termasuk Pertamina, anak usaha ENRG, anak usaha SHIP, hingga PT Gelombang Seismic Indonesia (GSI). Wilayah kerja BOAT meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua, serta Malaysia dan Thailand. Dari sisi sentimen, kinerja BOAT dinilai dipengaruhi perkembangan harga minyak dunia karena kenaikan harga minyak dapat mendorong aktivitas pengeboran dan konstruksi migas yang membutuhkan jasa perseroan.
DOSS merupakan emiten ritel penjual produk kamera. DOSS disebut memiliki pangsa pasar penjualan kamera 28% dan menjadi salah satu pemimpin pasar. Salah satu kekuatannya adalah basis pelanggan Business to Government dari lembaga pemerintahan, sekolah, hingga pemerintah daerah. Manajemen DOSS juga mengandalkan hubungan dengan komunitas fotografi untuk menjaga ruang pertumbuhan, serta menggandeng ERAA untuk menjual produk iPhone di DOSS Megastore Ratu Plaza milik perseroan. Namun, bisnis DOSS dinilai lebih “niche” dibanding BOAT karena berfokus pada ritel produk kamera.
Noprian Fadli: terkait aksi korporasi dan backdoor listing
Tokoh lain yang disebut mencuat adalah Noprian Fadli, pemilik Morris Capital dan Triple B Advisory. Ia dikenal karena keterlibatan dalam sejumlah transaksi yang dikaitkan dengan backdoor listing, seperti pada PIPA dan MEJA.
Rekam jejak yang disebutkan antara lain Noprian merupakan lulusan Program Pendidikan Eksekutif Bank Niaga (2001–2002) dan bekerja di bank tersebut selama 10 tahun (2001–2010) dari posisi Account Officer. Ia kemudian bergabung ke Investment Banking Group CIMB di Malaysia. Posisi tertingginya disebut sebagai Banking Head and Caretaker Corporate Banking Group Head pada 2009–2010.
Merujuk pada situs Triple B Advisory, sejumlah saham ditampilkan dan diasosiasikan memiliki hubungan dengan entitas yang dipimpin Noprian, yaitu PIPA, NINE, LAPD, MEJA, ASHA, hingga GPSO.
Untuk PIPA, hubungan disebut kuat melalui transaksi jual-beli dengan Morris Capital. Perusahaan yang mengakuisisi PIPA juga disebut terkait dengan Noprian. Sementara MEJA disebut sebagai salah satu entitas yang diakuisisi langsung oleh Triple B Advisory.
Dalam kasus NINE, Noprian disebut masuk sebagai komisaris dan mengambil alih kepemilikan setelah perusahaan tersebut tidak memiliki direktur utama. Ia kemudian bernegosiasi dengan Grup Poh untuk mengakuisisi NINE. Proses akuisisi disebut berjalan panjang hingga terjadi revisi CSPA dan perubahan harga beli.
Adapun korelasi Noprian dengan ASHA disebut melalui PT Asha Fortuna Corpora. Sementara untuk LAPD dan GPSO, disebut belum ditemukan korelasi kuat melalui Triple B Advisory maupun Morris Capital.
Seiring aksi korporasi pada NINE, PIPA, dan MEJA yang dikaitkan dengan Noprian, sebagian pihak menilai ASHA berpotensi mengalami hal serupa. Namun, penilaian tersebut disebut masih bersifat spekulatif dan belum pasti sampai ada pengumuman resmi.
Catatan untuk investor ritel
Meski portofolio dan aksi para pemegang saham besar kerap menjadi perhatian, investor ritel disebut tidak bisa serta-merta meniru langkah mereka. Untuk strategi investasi jangka menengah, diperlukan analisis mandiri, termasuk menentukan timing masuk agar tidak membeli pada fase harga yang sudah terlalu tinggi dan berisiko mengalami normalisasi.

