WASHINGTON — Pasar keuangan global melemah tajam seiring harga minyak mentah AS menembus US$100 per barel. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta keterbatasan pernyataan pemerintah dalam meredakan gejolak pasar.
Pada Jumat, indeks S&P 500 ditutup turun 1,7% dan mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut, yang disebut sebagai yang terburuk sejak 2022. Sejak serangan AS ke Iran pada 28 Februari, S&P 500 tercatat melemah sekitar 7%, menandakan menurunnya keyakinan investor terhadap peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Tekanan juga terjadi pada indeks utama lainnya. Dow Jones Industrial Average turun 1,7% pada Jumat dan telah kehilangan hampir 4.000 poin sejak perang dimulai, atau lebih dari 10% dari puncak terbarunya. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 2% dan telah terkoreksi sekitar 13% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober.
Lonjakan harga energi turut menjadi faktor yang membebani pasar. Harga minyak mentah AS melampaui US$100 per barel, sedangkan minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$114. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,4%, level tertinggi sejak musim panas lalu. Sejumlah saham sektor energi, termasuk ExxonMobil, diperdagangkan mendekati rekor tertinggi.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, namun respons pasar dinilai terbatas. Sebelumnya, saham sempat menguat setelah pemerintah menyebut adanya pembicaraan yang “produktif” dengan perwakilan Iran, meski sentimen positif tersebut tidak bertahan lama.
Analis menilai pasar kini lebih menuntut kepastian kebijakan, bukan sekadar pernyataan. Risiko gangguan pasokan minyak dan gas dipandang cukup besar sehingga biaya transportasi energi diperkirakan tetap tinggi, bahkan jika jalur vital seperti Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
Kenaikan harga minyak juga dinilai berpotensi mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi ini dapat memperkecil peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, bahkan probabilitas kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun disebut lebih besar dibanding peluang penurunan.
Meski pasar melemah, sebagian analis menilai penurunan belum lebih dalam karena prospek pertumbuhan laba perusahaan masih relatif positif. Namun, jika konflik berkepanjangan dan menekan konsumsi serta investasi, tekanan terhadap pasar saham diperkirakan dapat meningkat.
Sejumlah pengamat menilai dinamika konflik yang kompleks membuat pernyataan singkat dari pemerintah tidak lagi cukup untuk menenangkan investor. Dalam situasi ini, kemampuan Trump untuk memengaruhi arah pasar dinilai semakin terbatas dibanding periode sebelumnya.